Jurnalisme dan Perdamaian Indonesia

Indahnya pelangi dilukiskan atas keberagaman warna yang diperlihatkan. Warna saling berpadu, berkerjasama menggambarkan keindahannya. Tanpa saling mendominasi, tanpa berebut tempat siapa yang lebih utama, mungkin itu yang menjadi kunci keindahannya.

Baru-baru ini, saya ditunjuk untuk menjadi tim dokumentasi sebuah acara Pelatihan Jurnalistik yang diadakan oleh Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang, organisasi yang mempunyai visi menjaga dan melestarikan kerukunan antar umat beragama. Pekerjaan ini sudah menjadi biasa memang, seringkali saya mengikuti acara jurnalistik baik itu menjadi peserta hingga beberapa kali menjadi pembicara sekalipun hanya bersifat lingkup kampus atau SMA. Jika biasanya pelatihan jurnalistik diadakan oleh Himpunan Mahasiswa kampus-kampus atau institusi media, pelatihan kali ini berbeda, organisasi pengusung kerukunan beragama yang menyelenggarakannya. Bisa kita bayangkan bagamana perbedaannya.

Pelatihan Jurnalistik yang mengusung tema “Mengembangkan Kreatifitas Jurnalistik dalam nuansa Bhineka Tunggal Ika” ini diselenggarakan sabtu-minggu (29-30/09) di Gejera Kristen Indonesia Jl. Maulana Yusup, Bandung. Dan menghadirkan para pembicara dari Kompas. Heterogenitas dari sisi peserta menjadi barang yang langka. Peserta Pelatihan Jurnalistik kali ini dihadiri oleh banyak peserta dari latar belakang agama dan kebudayaan yang ada di Indonesia, khususnya Bandung.

Tak hanya materi kejurnalistikan, nilai-nilai plularisme sebagai tonggak majunya masyarakat sebagai bangsa disampaikan begitu empuk oleh para pemateri kali ini. “Jurnalis pun bisa menjadi pelopor perdamaian bangsa”, ujar Kang Pepih Nugraha, pemateri yang juga jurnalis Kompas ini disela penyampaian materi.

Benar memang, pers sebagai salah satu pilar demokrasi bangsa sudah menjadi seharusnya ikut terlibat terhadap salah satu permasalahan yang ada dalam masyarakat bangsa ini, Diskriminasi Agama atau Suku. Dan Jurnalis sebagai pelaku utama roda informasi, sudah tentu harus memperhatikan hal tersebut, tak hanya berbicara terkait penyampaian informasi, akan tetapi dampak daripada informasi yang diberikannya tersebut.

Keberagaman Tanpa Penyerataan

Hari kedua daripada pelatihan jurnalistik ini panitia mengagendakan kegiatan kunjungan ketempat peribadatan berbagai Agama sekaligus penugasan kepada para peserta untuk melakukan repostase ketempat peribadatan yang dituju.

Disinilah saya menemukan potensi bangsa ini dengan keberagamannya. Disinilah saya menemukan hakikat beragama. Saya seorang Muslim, dan tak sedikit pun menjadi merasa “Berbeda” ketika saya mengunjungi tempat peribadatan agama-agama yang lain. Keramahan teman-teman Kristen, Katolik, Kong Wu Chu, Hindu, Budha begitu mempesona. Tak ada perbedaan yang dominan, semua berbicara Indonesia, berbicara keberagaman tanpa penyamarataan.

Melihat para peserta dengan perbedaannya namun saling menyapa dan nampak akrab satu sama lain, barangkali menjadi hal yang mahal di Indonesia yang seringkali terpaku pada Egoisme Ideologi, dimana saya adalah yang paling benar, dan yang berbeda adalah sebuah kesalahan.

Maka, mari berpikir terbuka melihat perbedaan. Melihat sosial dan ritual. Melihat manusia sebagai sesama makhluk Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s