Televisi dan Budaya Massa

Televisi tidak bisa dilepaskan dari pola hiburan masyarakat. Walaupun tidak seluruh mata acara televisi tidak melulu berisi hiburan, tetapi mencakup pula seluruh produk terpakai atau barang konsumsi (consumer goods) sebagai produk massal dan fashionable yang fomasinya terstandardisasi dan penyebaran dan penggunaannya bersifat luas, lebih lagi televisi juga memuat informasi-informasi dan pendidikan.

Televisi dalam hubungannya dengan pola rekreasi masyarakat secara teoritis mencakup tiga aspek, pertama media rekreasi yaitu fasilitas yang memungkinkan warga masyarakat mendapatkan prosuk budaya massa (mass culture) yang memiliki fungsi satisfaksi; kedua produksen media rekreasi, yaitu individu atau institusi yang menciptakan, atau sebagai fasilitator, atau melakukan pendisribusian produk budaya; dan ketiga konsumen yang menggunakan produk kebudayaan untuk tujuan psikologis atau sosial. (Ashadi Siregar, 1997: 58)

Sistem pendukung pola rekreasi itu tidak dapat dilepaskan dari dinamika industrial dalam perekonomian dalam setting kapitalis, atau kekuasaan negara dalam sistem komunitas. Untuk pembahasan ini hanya akan disinggung produk budaya bersifat industrial. Pembahasan ini juga dimaksudkan untuk memberikan gambaran bagi suatu peta penelitian atas budaya massa di lihat dari perspektif komunikasi.

Kajian atas televisi merambah pada metode pendekatan budaya atas komunikasi. Di sini televisi dilihat sebagai penyampai komunikasi yang bisa dilihat dalam dua konsep. Pertama, transmission view of communication dan kedua adalah ritual view of communication.

Dengan konsep pertama televisi dilihat sebagai kegiatan komunikasi yang terdiri dari adanya pihak yang menyampaikan “hal” yang bermakna kepada pihak lain. Kegiatan ini berupa penyampaian tanda, dan pada dasarnya merupakan upaya untuk mengatasi jarak dan waktu. Kata kunci dalam konsep ini adalah penyampaian, transmission.

Sementara konsep kedua tidak bertumpu pada penyampaian yang mengatasi ruang dan waktu, tetapi pada kebersamaan. Dengan begini komunikasi tidak berarti menyampaikan pesan dari satu pihak yang terpisah kepada pihak lainnya, tetapi perwujudan dari kepercayaan bersama (representaion of shared beliefs). Pesan merupakan produk bersama dalam pemaknaan kehidupan bersama.

Berikutnya, produk budaya, yang dihasilkan televisi, dapat dilihat dalam dua cara yang berbeda. Di satu pihak sebagai produk budaya yang memiliki makna otonom. Pembicaraan mengenai makna otonomnya ini akan melepaskan produk televisi dari faktor di luarnya, karenanya dapat menjadi kajian untuk mengeksplorasi wacana suatu makna yang terpisah dari isi pesannya (studies signification apart from their content). Di sini ranah makna yang terkandung di dalam suatu wacana sama pentingnya dengan ranah empiris dalam fenomena sosial.

Pendekatan untuk mengemukakan produk ototnom ini dikenal dengan semiotik Pendekatan ini akan digunakan dalam tulisan kali ini sebagai pelengkap yang menerangkan hubungan isi pesan dengan perilaku penerimanya.

Sementara pada pihak lain produk budaya dilihat sebagai sesuatu yang memiliki makna eksternal terhadap produsen dan konsumennya. Dengan pendektan ini, bertolak dari dua sisi lain dari fungsi psikologis dan sosial bagi konsumennya dalam melakukan aktivitas rekreatif. Dengan kata lain, pola rekreasi dilihat dari sisi produsewn atau konsumen. Interaksi produsen dan konsumen ini dengan sendirinya tidak terlepas dari lingkungan sosial yang memberi peluang atau hambatan dalam penghadiran media rekreaso dan produk budaya televisi.

Untuk memberikan gambaran seerhana atas keberadaan media rekreasi dan produk budaya televisi di tengah masyrakat, kiranya dapat bertolak dari kerangka tentang kebudayaan sebagai berikut ini:

Budaya merupakan atau menjadi acuan dalam berbagai dimensi kehidupan sosial. Dimensi-dimensi kehidupan sosial dapat dikelompokkan sebagai domain polity (dunamika masyarakat negara), ekonomi, teknologi, sains, dunia kademik, sasatra, seni dan agama. Setiap domain memiliki orientasi tertentu, yang membedakan satu sama lain. Perbedaan ini mulai dari yang bersifat gradual, sampai bersifat dikhotomis. Dengan pandangan ini, kebudayaan dengan sendirinya bukan domain yang berdiri sendiri, melainkan suatu wahana yang memungkinkan berbagau domain sosial saling berinteraksi dalam struktur-sosial. Karenanyan dapat disebut sebagai motor yang menggerakkan berbagai interaksi berbagai domain sosial. Dinamika kebudayaan dapat dipandang sebagai proses yang mengatu tarik menarik berbagai domain, untuk mendapatkan kehidupan sosial yang bermakna bagi masyarakat yang berbeda dalam berbagai domain tersebut.
Dikenal, adanya empat macam orientasi sosial, yaitu ekspresif, normatif, instrumental, dan kognitif.Setiap orientasi ini bertolak dari dan bertujuan untuk menghadirkan makna tertentu. Di sini kebudayaan sebagai sumber nilai menjadikan setiap domain sosial digerakkan berdasarkan azas seimbang dalam tarik- menarik antar satu domian dengan domain yang lainnya. Dengan kata lain, makna dari orientasi suatu domain diharapkan dipengaruhi oleh domain yang lain. Kebermaknaan orientasi sosial suatu domain dengan demikian diperkaya oleh orientasi lainnya.
Tetatpi azas keseimbangan dalam mekanisme kebudayaan ini pada dasarnya hanya bersifat normatif, atau berupa ideologi; sulit ditemukan dalam kenyataan empiris. Biasanya dalam hukum tarik menarik ini secara empiris, biasanya ada satu domain yang lebih kuat untuk menempatkan orientasi yang didukungnya sebagai acuan untuk setiap domain lainnya. Dalam struktur dengan domain agama lebih hegemonik, akan menempatkan domain lain ke arah orientasi normatif. Begitu pula jika domain teknologi atau pun ekonomi bersifat hegemonik, domain lainnya akan dipaksa mengikuti orientasi instrumental.
Kebudayaan dalam arti sempit bisanya dimaksudkan sebagai produk yang diproduksi dan dikonsumsi dalam orientasi ekspresif. Produk semacam inilah yang dikenal dengan rekreasi. Dengan kata lain, media rekreasi menggunakan domain seni dan sastra sebagai materi untuk digunakan masyarakat dalam orientasi ekspresif. Walaupun dalam menggunakan media rekreasi, warga masyarakat dapat juga menggunakan produk-produk yang dimaksudkan sebagai domain dengan orientasi ekspresif. Misalnya dengan menonton barang-barang yang dipajang di etalase mall atau ruang pameran. Barang yang dipajang tidak dimaksudkan sebagai orientasi ekspresif , melainkan dalam fungsi orientasi instrumental. Mungkin fungsi ekspresif yang terkandung dalam suatu seni pajang, bukan pada barang yang digunakan. Dengan demikian seni yang ditempatkan dalam orientasi instrumental ni tetap mengandung nilai yang dinikmati secara estetis.
Ada yang melihat bahwa seni dan sastra sebagai domain yang berorientasi ekspresif, sepenuhnya bersebtrangan dengan orientasi instrumental. Artinya, dalam makna secara otonom, seni dan sastra memiliki orientasi ekspresif; sementara ekonomi dan teknologi dalam makna otonomnya memiliki makna instrumental. Dengan begitu keberadaan domain seni dan sastra tidak boleh diletakkan dalam orientasi instrumental. Ini dapat dipahami jika dikotomis antara orientasi ekpresif dan instrumental ini sudah bersifat ideologis. Padahal pendukung produk budaya, dalam hal ini produsen dan konsumen produk budaya tidak mungkin terlepas dari domain lainnya. Kecuali faktor-faktor domain lainnya epenuhnya memberikan ottonomi dan memang menyediakan peluang produk yang meberasal dari domain seni dan sastra dapat murni dalam oreintasi ekspresif. Tetapi belajar dari sejarah peradaban manusia, sulit kita menemukan orientasi ekspresif yang murni dan otonom, tanpa pengaruh dari domain lainnya. Setidaknya pengaruh dari domain agama, sehingg seni dan ssatra berada di bawah pengaruh orientasi normatif. Antara domain agama dan polity pada hakekatnya sama, yaitu berorientasi normatif, karenanya sering terjadi produk seni dan sastra juga berada di bawah ata mendukung kekuasaan negara.
Adakalanya domain polity bergerak kepada orientasi instrumental, kerananya domain lainnya diatur atau diberi peluang agar memiliki orientasi instrumental. Produk seni dan agama misalnya, dijadikan media rekreasi dalam industri turisme (domain ekonomi) sehingga memiliki orientasi instrumental.
Zaman ini, mengikuti apa yang dikemukakan oleh Daniel Bell, adalah zaman yang dipengaruhi dengan kuat oleh techno-economie sehingga budaya dan politik meluuh dan menjadi bagian dari prinsip aksial techno economie, pengekonomisasian. Dalam wacana di atas seluruh medan orientasi disedot oleh dan menjadi orientasi instrumental.
———————–
Selain pandangan struktural dengan saling pengaruh antar domain sosial, keberadaan media rekreasi dapat dilihat dari sisi konsumen. Dengan cara lain keberadaan media rekreasi dapat dilihat dari fungsinya dalam masyarakat. Dari fungsi ini, setipa individu mempunyai pola rekreasi yang khas, bertolak dari motivasinya. Boasa disebutm fungsi media bertolak dari motivasi penggunanya. Dalam perspektif budaya, motivasi khalayak terhadap media dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Kerangka pemikiaran di atas menawarkan tiga aspek penting dalam pengguanaan produk budaya, yaitu harapan untuk keterlibatan secara umum, selera individual, dan pengalaman imajinatif sebagai tujuan kesenangan/satisfikasi. Perbedaan motivasi ini menjadi dasar dalam proses penggunaan produk budaya. Dengan demikian media rekreasi sebagai penyampaimuatan medua, tidak sepenuhnya dapat ditentukan maknanya melalui intensi produsennya maupun domain lainnya seperti agama, politik dan ekonomi. Kecenderungan atas media ini berada dalam dunia subjektif khalayak yang mungkin berada dalam domain agama, politik atau ekonomi, atau sama sekali tidak menggunakan acuan dari salah satu domain di mana ia berada.
Pengalaman imajinatif merupakan tuuan yang ingin dicapai dalam menggunakan media rekreasi. Dengan demikian pola rekreasi dapat dibedakan dari tujuan yang ingin dicapai oleh khalayak, sehingga pasokan produk budaya pun dapat diklasifikasikan atas dasar kecenderungan konsumennya. Secara umum tujuan yang ingin dicapai adalah kesenangan, karenanya setiap media rekreasi yang menggunakan produk budaya semacam ini akan menyentuh dunia subjektif khalayak yang bersifat efektif. Fungsi rekreatif dari media ini membedakannya dengan medaia massa yang dimaksudkan sebagai media sosial.
Dari sni dapat dibedakan antara kesenangan yang dicapai melalui media rekreasi dengan media yang menyampaikan informasi tentang kenyataan sosial. Motivasi khalayak terhadap media semacam ini bertolak dari kepentingan atau rasa ingin tahu secara umum, dan bertujuan untuk mendapatkan kesenangan berupa pengaaman kemanfaatan (benefic) sosial seperti petunjuk, pengawasan, pertukaran sosial, dan lainnya (Mc Quail, 1985). Jika dirangkumkan, perbedaannya dapat dilihat sebagai berikut:

Kecenderungan psikologis untuk mendapatkan kesenangan/satisfikasi berupa pengalaman imajinatif dengan satisfikasi berupa kemanfaatan sosial ini menempatkan setiap media memiliki fungsi yang berbeda. Pengalaman imajinatif dan kemanfaatan sosial dapat dijadikan dasar dalam melihat fungsi media dalam masyarakat.
Namun perlu diingat bahwa funsgi-fungsi ini dapat saja bertumpang tindih dari sauatu media. Kecenderungan khalayak terhdapa media dapat menjadi tidak proporrsional akibat fungsi media yang juga tidak proporsional. Misalnya terhadap media rekreasi diharapkan terpenuhi satisfikasi berupa kemanfaatan sosial, atau sebeliknya media sosial digunakan sebagai pemenuhan satisfikasi pengalaman imajinatif. Dapat digambarkan sebagai berikut:

FUNGSI                                        MEDIA REKREASI                                      MEDIA SOSIAL

Subjektif/Imajinatif               Fungsional                                                     Disfungsional
Objektif/Sosial                         Disfungsional                                                Fungsional

Fungsi media dilihat dari pemanfaatannya dalam masyarakat. Media ekreasi pada dasarnya membawa khalayak ke dunia subjektf dalam pengalaman imajinatif, dunia dalam dari konsumennya. Proporsi media semacam ini ialah sejauh mana ia fungsional membawa konsumennya ke dunia imajinatif sebaliknya sejauhmana ia disfungsional yang membawa konsumen ke dunia objektif dalam pengalaman sosial, dunia luar dari konsumen yang bersangkutan.
Proporsi ini dapat saja dibolak-balik oleh institusi atau individu pemegang media sehingga fungsioal dan disfungsionalnya di balik sedemikian rupa sesuai kepentingan pemegang otoritas. Misalnya dalam masyarakat dengan hegemonik partai komunis, misalnya, media dianggap hanya meniru kehidupan kaum dekaden kapitalis dan borjuis. Di sini penguasa menetapkan fungsi media rekreasi harus membawa konsumennya ke dalam dunia objektif (Ingat slogan seni untuk rakyat).

Khalayak, selain memiliki kecenderungan untuk menggunakan televisi juga memiliki kecenderungan untuk mengabaikan televisi. dari studi tentang motivasi media, dapat digambarkan kecenderungan tersebut sebagai berikut:

Penggunaan media tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan media belaka, sebab faktor kecenderungan dari khalayak tidak kalah pentingnya. Dorongan untuk menggunakan atau tidak menggunakan media dapat didekati denga dua cara sehingga terdapat empat kemungkinan perilaku khalayak dalam menghadapi media. Setidaknya dapat dikelompokkan dalam dua kemungkinan, pertama dorongan untuk mendapatkan kepuasan atau gratifikasi atas media, karenanya mencari media untuk dikonsumsi (gratifikasi positif), atau pada ekstremitas lain yaitu menghindari penggunaan media (gratifikasi negatif) .

One thought on “Televisi dan Budaya Massa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s