PROBLEM PENGGUNAAN BAHASA SUNDA DALAM CERAMAH-CERAMAH KEAGAMAAN

Dra. N. Imas Rosyanti*

I. Pendahuluan
Ceramah keagamaan merupakan salah satu metode dakwah Islamiyyah. Aktifitas dalam ceramah adalah seseorang menyampaikan pesan-pesan agama di hadapan sejumlah orang. Dalam kesempatan itu bahasa yang digunakan adalah bahasa yang tentu saja dimengerti oleh kedua belah pihak. Oleh karena itu Allah Swt. ketika akan memberi hidayah kepada suatu kaum, maka Dia memiliki salah seorang dari mereka sebagai rasul atau pemberi peringatan untuk mereka. Allah Swt. berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (ابراهيم: 4)

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (Q. S. Ibrahim: 4)

Hal ini tentu mengandung hikmah yang berkaitan dengan kunci keberhasilan dakwah yang optimal. Karena orang yang berasal dari suatu komunitas dan menggunakan bahasa mereka dalam berkomunikasi dengan mereka sangat mengetahui karakter mereka dan penjelasannya tentang pesan-pesan wahyu akan sangat jelas dan mendasar, karena tugas rasul itu tidak lain adalah sebagai juru bicara dan sebagai perantara antara komunitas yang diwakilinya dengan Allah. Maka dari itu, ketika seorang rasul diutus bukan hanya kepada kaumnya, melainkan kepada seluruh manusia dengan berbagai karakter dan tradisinya, maka ia akan dibekali dengan kemampuan untuk dapat berkomunikasi dengan menggunakan berbagai bahasa sesuai dengan kaum yang dihadapinya, sebagaimana yang terjadi pada diri Muhammad Rasulullah Saw. Bahkan Al-Quran diturunkan dengan tujuh huruf yang oleh para ulama ditafsirkan bahwa dalam Al-Quran terdapat sejumlah dialek bahasa Arab yang bukan hanya dialek Quraisy yang merupakan bahasa kaum Muhammad secara khusus.
Di samping itu, keragaman bahasa di muka bumi ini merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah Swt. yang tentu saja mengandung sejumlah rahasia.

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ (الروم: 22)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. (Q. S al-Rum: 22)
Bila diperhatikan susunan kalimat pada ayat di atas, kita dapatkan bahwa rahasia perbedaan bahasa dan warna kulit (tipe) manusia sejajar dengan rahasia penciptaan langit dan bumi. Hal ini terbukti dengan begitu banyaknya ilmu yang lahir sehubungan dengan perbedaan bahasa dan warna kulit. Di antara ilmu yang lahir tentang bangsa-bangsa dengan berbagai karakter dan tradisinya adalah etnografi yang pada perkembangannya mempunyai kedudukan yang sangat sentral dalam penelitian antropologi dan deskripsi kebudayaan yang pada gilirannya menjadi syarat mutlak bagi penafsiran sejarah atau sosiologi.
Sehubungan dengan itu, apakah pada gilirannya para pewaris para nabi dan rasul, yaitu para ulama dan muballigh, juga dituntut untuk menggunakan bahasa lokal komunitas yang dihadapinya secara khusus? Lalu sejauh manakah urgensi penggunaan bahasa lokal tersebut dalam ceramah-ceramah keagamaan? Serta cukupkah menggunakan bahasa induk regional komunitas yang bersangkutan?
Ketiga pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab hanya berdasarkan retorika kedua ayat tersebut dengan segala muatan filosofis dan psikologis padanya, melainkan memerlukan pendekatan sosiologis dan antropologis. Bahkan diperlukan juga kajian historis. Pendekatan yang sedemikian kompleks akan sangat membantu dalam memberikan jawaban.

II. Tuntutan, Problem, dan Solusi
Muatan filosofis dan psikologis kedua ayat tersebut di atas sangat mendukung penggunaan bahasa lokal dalam ceramah-ceramah agama. Suatu bahasa lokal dapat mewakili seluruh budaya lokal komunitas yang bersangkutan, karena setiap kosa kata dari bahasa lokal itu dirancang untuk mengungkap sejumlah makna filosofis yang sangat erat dengan budaya komunitas pemakainya, lebih-lebih yang berkaitan dengan peribahasa atau pernik-pernik sastra lainnya. Selain itu penggunaan bahasa lokal memberikan nuansa psikologis yang sangat dalam, sehingga komunikasi antara penceramah dengan para pendengarnya lebih efektif.
Penggunaan suatu bahasa tertentu dalam ceramah-ceramah agama tidak semata-mata berkaitan dengan pengucapan kata-katanya, melainkan juga berkaitan dengan intonasi yang lazim dipergunakan dalam bahasa yang bersangkutan, bahkan berkaitan pula dengan gerak mimik dan anggota tubuh lain sebagai asesorisnya.
Semua itu akan benar-benar memiliki nilai lebih apabila didukung dengan faktor-faktor lain, terutama faktor rasa memiliki dan rasa peduli masyarakat Sunda kepada budayanya. Dukungan dimaksud dapat berupa besarnya minat mereka dalam menggunakan dan menghargai bahasa Sunda dalam percakapan sehari serta apresiasi mereka terhadap penggunaan bahasa Sunda oleh orang-orang di sekitarnya.
Masyarakat Sunda sebelum kedatangan Islam telah memiliki budaya yang menyangkut berbagai aspek kehidupan mereka, baik kehidupan individual maupun kehidupan sosial, dan secara turun temurun mereka junjung tinggi dan merasa terikat olehnya. Pada saat itu budaya mereka telah diwarnai ajaran spiritual dengan penyembahan kepada Tuhan mereka yang diberi nama Yuang Brahma dan Yuang Wisnu, Yang Jagad Nata Pangerannya orang setriloka sebagai pengaruh Hindu dari Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda Pajajaran.
Dengan demikian Islam masuk ke tatar Sunda berhadapan dengan budaya yang telah sedemikian melekat. Kondisi yang demikian menuntut adaptasi teknis yang bagus, sehingga kedatangan Islam dengan segala ajarannya dapat menarik simpati masyarakat Sunda. Hal itu telah tercapai awal perkembangannya dan terus berkembang, hingga para peneliti kebudayaan Sunda kontemporer berkesimpulan bahwa “Sunda itu Islam dan Islam itu Sunda”.
Para pembawa Islam ke tatar Sunda itu mendirikan pondok pesantren untuk menampung orang-orang yang ingin belajar Islam kepadanya, seperti Hasanudin Quro di Karawang dan Nurjati di Pasambangan Cirebon pada abad ke-14 M. Pesantren di Pasambangan ini bertambah maju ketika dipegang oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati (1448-1568).
Proses pengajaran Islam di pesantren-pesantren klasik menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa penerjemahan kitab-kitab yang berbahasa Arab, termasuk di pesantren-pesantren yang didirikan di tengah-tengah masyarakat yang berbahasa Sunda. Namun lambat laun di sejumlah pesantren Sunda bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Jawa dipadukan dengan bahasa Sunda. Bahkan pada perkembangan lebih lanjut banyak pesantren di Sunda sepenuhnya menggunakan bahasa Sunda.
Sementara itu penyebaran Islam di tatar Sunda di luar pesantren pada periode awal itu (abad ke-14 M.) hingga berakhirnya kekuasaan Kerajaan Sunda Pajajaran (1579) yang takluk oleh Banten banyak ditempuh melalui berbagai kesenian Sunda, seperti seni vokal masyarakat Sunda yang disebut dengan seni beluk yang sering dipentaskan dalam acara-acara hajatan keluarga. Dengan demikian penggunaan bahasa Sunda dalam pesan-pesan agama dan ceramah-ceramah ringan saat itu merupakan sesuatu yang mutlak harus ditempuh.
Maka dengan dikuasainya wilayah Kerajaan Sunda Pajajaran oleh Kerajaan Banten pada tahun 1579 dan oleh Kerajaan Mataram pada tahun 1595 sampai dengan tahun 1705, maka penggunaan bahasa Sunda dan pemeliharaan budayanya secara politis tidak lagi mulus. Akan tetapi penggunaan bahasa Sunda dalam penyebaran Islam di dalam pesantren maupun di luar pesantren tampaknya tidak menjadi masalah yang serius.
Selama tatar Sunda berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda bersama wilayah Nusantara yang lain, meskipun secara politis aktifitas penyebaran Islam dibatasi sedemikian rupa, namun kenyataan yang terjadi justru menunjukkan kemajuan yang pesat. Hal ini terbukti dengan banyaknya berdiri pondok-pondok pesantren di berbagai wilayah pedalaman Sunda sejak abad ke-16 M., seperti Pondok Pesantren Nurul Huda di Kuningan yang didirikan pada tahun 1675. Di samping itu terdapat puluhan pesantren lainnya.
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945 dan Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa nasional dan bahasa pemersatu seluruh suku-suku di seluruh Nusantara dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang pada intinya tetap melestarikan dan mengembangkan budaya-budaya daerah dengan seluruh subnya, maka penggunaan bahasa Sunda dalam berbagai acara resmi kedaerahan secara yuridis dilindungi negara. Dengan demikian penggunaan bahasa Sunda dalam kegiatan ceramah-ceramah agama secara yuridis sama sekali tidak mendapatkan hambatan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa secara yuridis dan historis penggunaan bahasa Sunda dalam kegiatan ceramah-ceramah agama sama sekali tidak mendapatkan hambatan, sehingga secara filosofis dan psikologis perlu dilestarikan dan dikembangkan melalui berbagai media pelestarian dan pengembangan budaya Sunda yang ditangani seluruh elemen masyarakat Sunda yang peduli secara terpadu.
Namun problem yang sulit dihindari adalah faktor heterogenitas masyarakat pendengarnya serta penghargaan mereka terhadap budaya Sunda. Apabila suatu masyarakat terdiri dari orang-orang keturunan suku Sunda yang asli dan menghargai serta memelihara budaya Sunda dengan baik, maka mereka akan sangat menuntut penggunaan bahasa Sunda dalam ceramah agama dan hal itu akan sangat mendukung efektifitas ceramah yang bersangkutan. Masyarakat yang demikian kebanyakan tinggal di desa-desa yang perekonomiannya cukup mapan yang dalam bahasa pembangunan Orde Baru disebut sebagai desa Swadaya atau Swa Sembada. Sebaliknya, apabila suatu masyarakat terdiri dari orang-orang yang berasal dari berbagai daerah dengan budaya masing-masing yang sangat beragam, maka penggunaan bahasa Sunda justru akan menjadi faktor penghambat bagi efektifitas ceramah agama di masyarakat tersebut. Masyarakat yang demikian kebanyakan berada di daerah urban, seperti di kompleks-kompleks perumahan dan daerah pengembangan kota-kota di tatar Sunda. Dalam masyarakat yang demikian senantiasa berlangsung interaksi budaya di antara mereka dengan sangat intens. Dalam kondisi demikian diperlukan penggunaan bahasa pemersatu mereka, yaitu bahasa Indonesia, atau setidaknya digunakan bahasa campuran bahasa Indonesia, bahasa Sunda, dan bahasa daerah lain sebagai selingan.

III. Penutup
“Basa Sunda jati Sunda” adalah semboyan yang hendaknya benar-benar menjadi motivasi masyarakat Sunda dalam melestarikan budayanya. Para penceramah yang merupakan orang Sunda asli hendaknya ikut berpartisipasi melestarikan bahasa Sunda dengan mengupayakan penggunaan bahasa Sunda dalam setiap ceramahnya dengan tetap memperhatikan pendengar non Sunda dengan menyelinginya dengan bahasa Indonesia.
Semoga tulisan singkat ini dapat menjadikan bahan renungan bagi para muballigh Sunda asli, demi meningkatkan efektifitas ceramah agamanya.

Daftar Bacaan
Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya.
Dadan Wildan, Penyebaran Islam di Tatar Sunda (Makalah dalam Workshop Penelitian Islam Sunda), Garut, 20 – 22 Juli 2003.
Hasan Muarif Ambary, Menemukan Peradaban, Jejak Arkeologis dan Historis Islam di Indonesia, Obor, Jakarta, 1998.
Iip Dzulkifli Yahya, “Gerakan kebudayaan di Pesantren (Sebuah Alternatif)” dalam Pedoman & Makalah Kongres Basa Sunda VII, Lembaga Basa Jeung Sastra Sunda (LBSS) gawe bareng Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prop. Jabar, Garut, 2001.
Jalaluddin Rakhmat. 1996. Psikologi Komunikasi, Edisi Revisi Cet. Ke-10, Remaja Rosdakarya, Bandung.
S.P. Sulendraningrat. 1984. Babad Tanah Sunda/Babad Cirebon, Tp. 1984.

*Penulis adalah dosen di Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s