Media Penyiaran Indonesia Menghadapi Era Globalisasi.

Oleh : Ishadi S. K.
Secara sambil lalu dengan melihat konteks makro, menghadapi era globalisasi kalau hendak mencoba mengkaji posisi media penyiaran Iudonesia harus dilihat beberapa fenomena berikut ini:

1. Fenomena globalisasi.
Pada dasarnya globalisasi televisi tidak terlepas dari globalisasi empat komponen T (huruf T besar). Yakni:

Telekomunikasi: Kemajuan teknologi tclekomunikast yang dilandaskan pada jaringan satelit dan fiber optik yang meliput seluruh bagian dunia telah menjadikan dunia menjadi wilayah yang tanpa batas jarak dan waktu dari sisi tetekomunikasi. Orang bisa berhubungan langsung dimanapun dan kapanpun. Melakukan transaksi komunikasi maupun transaksi bisnis kapan pun dan dimanapun. Penggunaan selular mobile phone yang di kaitkan dengan komputer dan bisa dihubungkan dengan fibre optik maupun satelit merupakan puncak dari kemajuan teknologi disektor ini.

Transportasi: Kemajuan teknologi transportasi memungkinkan pengiriman barang dilakukan secara tepat waktu. “On time delivery”. Ini sangat membantu mengurangi inventory yang biayanya mahal. Teknologi ini juga memungkinkan dilakukan sistim fabrikasi global yang sangat efesien. Sebuah mobil katakanlah Honda CRV, misalnya disainnya dibuat di laboratorium Honda di Tokyo, mesinnya dibuat di Amerika, Pintunya di Taiwan, bannya di Malaysia, interiornya di Filipina dan fabrikasinya di Eropah. Dipasarkan di Asia dan Afrika. Ini semuanya dimungkinkan dengan sistim delivery on time. Menggunakan pengangkutan ro-ro. Roll in roll out. Dalam bentuk peti kemas, dari tempat pembuatan ke tempat tujuan diangkut dengan kapal container raksasa, disambung dengan angkutan truk maupun kereta api yang jadwal perjalanannya dimonitor terus menerus melalui satelit.

Travel: Globalisasi traveling dimungkinkan tieugan pertemuan kapal penumpang raksasa, yang memuat 3000 hingga 5000 penumpang, berlayar mengelilingi dunia dan berlabuh ditujuan wisata yang jarang didatangi. Sebaliknya transportasi udara juga ditingkatkan dalam kapasitas angkutan Tahun 2005 sudah akan dioperasikan pesawat raksasa jenis baru VLA (Very Large Aircraft) Boeing 757xx buatan Amerika, maupun Air Bus A3 XX buatan Eropah, yang mampu mengangkut 500 hingga 600 penumpang sekaligus. Lapangan terbang Changi – Singapura, Sepang – Kuala Lumpur, Chep Lap Kok Hongkong, Bejing – China dan Narita – Jepang, semenjak lima tahun lalu telah diperluas dan disiapkan untuk mampu menampung pesawat baru super jumbo ini. Dekade abad pertama 2000, akan diramaikan oleh 1200 pesawat jenis ini. Kereta api super ekspress yang berkercepatan 300 sampai 400 km sejam tetah dikembangkan dengan baik sekali di Perancis dan Jepang. “Week end golfing” dan “week end shopping” telah menjadi trend baru dikalangan eksekutif Jepang, Singapura, Korea maupun Taiwan. Berangkat Jum’ at malam, belanja atau main golf di Bali atau Pulau Bintan, hari Sabtu dan Minggu, dan kembali Minggu malam untuk bekerja lagi bari Senin pagi.

Televisi: Televisi membuktikan kebenaran ramalam Marshal Mc Luhan yang pada tahun tujuh puluhan telah memperkirakan dunia menjadi “global village”. Desa dunia. Dunia adalah sebuah desa besar yang mempunyai tradisi dan ritual yang sama. Mendengarkan radio yang sama (BBC,ABC,VOA,Bloomberg), nonton televisi yang sama (CNN,CNBC,MTV), berpakaian yang sama (Jeans, T Shist, Nike), makan makanan yang sama ( Sushi, Mc Donald, KFC), minuman yang sama ( Pepsi, Coke), mobil yang sama (Ford, Hyndai), telpon genggam yang sama (Samsung, Erricson, Nokia) permainan yang sama( Sepak Bola, Golf, Tenis, Jetski, Video game), gaya hidup yang sama (light up the night, pubs, chatings).

2. Fenomena Global Paradox
Futurolog John Naisbitt, dalam bukunya “Global Paradox”, (1980), meramalkan terjadinya berbagai paradox seiring dengan globalisasi yang melanda dunia pada millenium ke III. Paradox berlangsung bersamaan dengan terjadinya universalisme, karena pada saat yang sama berkembang dengan amat cepat semangat kesetiakawanan etnis yang sempit. Terjadi paradox antar etnis yang menguat. Ini dibuktikan dengan balkanisasi di Yugoslavia, pemberontakan, etnis kurdi di Turki, Czesna di bekas Uni Sovyet, kelompok Basque di Spanyol, etnis Britton di Perancis, Puerto Rico dan Hispanic di Amerika hingga negaa bagian Quebeq di Canada. Konflik etnis sangat terasa di Indonesia, menimbulkan ribuan kor6anjiwa, dan ratusan ribu pengungsi. Meskipun demikian sampai sekarang penampungan dinamika etnis ini di penyiaran Indonesia masih terbatas pada kelo~ok suku Jawa dan Sunda saja.( Ketoprak humor, Srimulat, Wayang Orang, Golek, Ludruk).

3. Fenomena: Political Economy of Media.
Graham Murdock dan Peter Golding, dalam tulisannya “Capitalism, Communication and Class Relations”( 1977), menulis mass media tidak pernah terlepas dari kepentingxn ekonomi dan politik. Mass media termasuk surat kabar, tidak lagi terpaku pada idiom idelisme seperti masa awal abad ke dua puluh sampai tahun 1980, dimana media merupakan institusi yang sarat dengan paradigma moral, nilai luhur, obyektivitas dan “pubfic sphere”, tapi telah sepenuhnya terherlibat dalam konflik dan kepentingan bisnis dan politik yang berkuasa.

Di negara totaliter, pemerintahlah yang memegang kendali media. Di negara kapitalis, para pemilik modal dunia sekarang ini secara langsung atau tidak langsung telah di kuasai oleh tiga baron Media: Ruppert Murdoch, yang menguasai jaringan televisi kabel, Fox Television, di Amerika saikat; Sky TV Satelit di Eropa dan Star TV Network di Asia. Menguasai 40 surat kahar besar di Eropah, Asia, Amerika dan Australia; Ted Turner, pemilik Jaringan CNN, dan Wakil Presiden dari perusahaan baru multi media, American On Line dan Time Warner, serta Silvio Berlusconi yang memiliki jaringan radio televisi RAI di Italia, serta jaringan tv kabel utama di Eropah. Ketiga baron media ini secara perlahan namun pasti sedang berniat melebarkan kekuasaannya di berbagai pelosok dunia dan menguasai arah dan cara berfikir khalayaknya.

4. Fenomena Multi Media
Awal milienium III, ditandai dengan “deal” raksasa antara perusahaan internet American On Line dengan Time Warner. Kesepakatan yang dibuat tanggal 3 Januari tahun 2000, itu menghasilkan sebuah perusahaan baru – merger – anrara keduanya yang nilai sahamnya mencapai harga 350 milyard dollar. Belum pernah ada deal sebesar itu yang pernah dilakukan dalam sejarah. American On Line, perusahaan internet yang memiliki 30 juta pelanggan dan 50 juta pelanggan potensial, bergabung dengan Time Warner, yang merajai usaha Film ( Warner Brothers), Media Cetak (Majalah Time Edisi Asia, Asia Week, Fortune, Sport Illustrated), Percetakan (Time Publishing Company), Televisi (CNN International, TNT Cartoon Network,HBO Asia) dan Perusahaan rekaman musik (Warner Recording Company). Penggabungan ini menandai era cyberspace. Masa depan dunia bisnis terletak di bisnis multi media dengan memanfaatkan penggahungan tiga – C. Communication, Computer dan Content.

5. Fenomena Sindrom Reformasi.
Fenomena global itu di dalam negeri secara bersamaan di tandai dengan fenomena sindrom reformasi. Reformasi menghasilkan kesepakatan kebebasan pers, dengan menghapus segala macam kendala dan hambatan yang menghalangi kebebasan pers. Izin cetak praktis ditiadakan. Stasiun Televisi baru diizinkan dengan memanfaatkan alokasi frekwensi yang tersedia secara rnaksimal: lima izin stasiun baru televisi dikeluarkan pada akhir tahun 1998. Lebih dari dua ribu izin haru untuk media cetak: koran dan majalah diseluruh Indonesia. Puluhan stasiun radio baru diperbolehkan mengudara. Karena terlena dalam nuansa kebebesan, terjadi situasi yang merisaukan. Tidak ada rambu-rambu untuk penyiaran di Indonesia sementara ini. Undang Undang Penyiaran No. 24/1977, yang tidak lagi berlaku karena Deppen RI. telah dibubarkan belum ada penggantinya, sementara Kode Etik dan aturan sementara yang menyangkut isi siaran juga belum ada.

6. Fenomena Sindrom Otonomi Daerah
Tahun depan, telah diberlakukan otonomi daerah. Undang Undang Telekomunikasi menyebutkan ketentuan mengenai frekwensi radio penyiran diserahkan kepala daerah. Sulit dibayangkan apa yang akan terjadi. Namun akan ada rebutan alokasi frekuensi karena peta Frekwensi beda dengan peta administratif daerah otonomi. Sistem televisi dan radio akan mengarah pada pembangunan sistim tadio dan televisi lokai atau afiliasi.

Kesimpulan:
Tidak mungkin dalam waktu singkat menganalisa bagaimana sistim penyiaran Indonesia ditengah berkembangnya enam fenomena tersebut diatas. Namun secara tersamar dengan memperhatikan fenomena yang sedang terjadi bisa diramalkan arah kecederungan yang mungkin dihadapi Indonesia dalam kurun waktu lima tahun yang akan datang. Yang paling penting adalah penyusunan rambu-rambu dan penentuan arah kebijaksanaan makro di bidang telekomunikasi dan informesi Media telah menjadi bisnis yang paling menguntungkan terutama dengan bergabungnya media konvensional dengan internet. Masaalahnya adalah sampai seberapa jauh kebijaksanaan nasional dalam bentuk perundang-undangan, dan kebijaksanaan penyiaran dan telekomunkiasi dalam negeri mampu untuk memberikan kesempatan usaha informasi di Indonesia tetap dipegang dan dikendalikan oleh bangsa Indonesia sendiri

Jakarta, 12 Nopember 2000.

Ishadi S.K.

One thought on “Media Penyiaran Indonesia Menghadapi Era Globalisasi.

  1. However, much more than 18% of US grownups encounter a lot more extreme forms of Anxiety Disorder. It is good to help make notes as part of a record towards issues you are afraid of which you fear could cause you to feel a panic hit. Broadly communicating it is definitely known as cognitive treatments and it really works through helping you change how you observe the entire world an estimated your.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s