KODE ETIK PENYULUH, PEMBIMBING, DAN KONSULTAN ISLAM

PENDAHULUAN
Dakwah sebagai sebuah realitas, eksistensinya tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun. Bahkan kegiatan dakwah sebagai proses membentuk manusia yang baik (shalih) baik secara individual maupun sosial akan tetap ada selama Islam masih menjadi agama manusia. Karena dakwah merupakan kegiatan suci –umat Islam- akan tetap diperjuangkan untuk merealisasikan ajaran Islam. Lebih dari itu, kegiatan dakwah dalam apapun bentuknya keberadaannya dibutuhkan oleh manusia dalam rangka mewujudkan individu yang memiliki kasih sayang terhadap sesama dan mewujudkan tatanan masyarakat marhamah yang dilandasi oleh kebenaran tauhid persamaan derajat, semangat persaudaraan, kesadaran akan arti penting kesejahteraan bersama, dan penegakkan keadilan di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Sebagai sebuah realitas, pemahaman masyarakat tentang dakwah masih cukup beragam baik dikalangan alim apalagi dikalangan masyarakat awam. Walaupun betul bahwa pada saat ini persepsi dan pemahaman masyarakat tentang dakwah telah mengalami perubahan. Misalnya, pada masa lalu dan mungkin juga masih tetap pada sebagian masyarakat sekarang, dakwah seringkali diartikan secara praktis sama dengan tabligh atau khitabah, yaitu kegiatan menyampaikan ajaran Islam secara lisan yang dilakukan oleh orang tertentu dalam pengajian-pengajian di majlis taklim atau ceramah pada peringatan hari-hari besar Islam.
Oleh karena itu kita harus lebih luas dalam mengartikan dakwah. Dakwah tidak hanya terpaku pada podium-podium di Mesjid, tapi banyak lagi metode-metode dakwah yang dapat dilakukan demi keefektifan mengsiarkan Islam lebih jauh. Termasuk metode penyuluhan, bimbingan dan konsultasi Islam yang juga dapat menjadi alternative dalam berdakwah. Maka kelompok kami akan mendeskripsikan dakwah dengan metode ini yang dikaitkan dengan aspek-aspek teori dalam disiplin ilmu komunikasi.
Begitu banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu kami harapkan tegur sapa akrab para pembaca berupa kritik maupun saran. Semoga makalah ini bisa jadi pengantar berdiskusi demi kemajuan dakwah Islam kedepan. terima kasih.

KODE ETIK PENYULUH, PEMBIMBING, DAN KONSULTAN ISLAM

A. Pengertian Judul
1. Pengertian Etika
Kata etika menurut Jalaludien Rakhmat berasal dari perkataan Aristoteles yang membagi kebajikan teoritis (dianoetika) dan kebajikan praktis (etika). Sebenarnya etika adalah kebajikan praktis atau dengan kata lain etika tersebut berhubungan dengan pendekatan kritis yang mengamati realitas moral secara kritis dan menuntut pertanggung jawaban dan menyingkap kerancuan mengenai kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai pandang moral. Secara sederhana etika atau etik pada hakikatnya berhubungan dengan apa yang baik dan apa yang buruk didalam masyarakat, sedangkan secara ilmiah etika berhubungan dengan filsafat moral, dan etimologinya, berkaitan dengan nilai dan prilaku, dan sikap tindak manusia sesuai dengan pedoman pada asas-asas nilai moral yang berbudi luhur dan tinggi atau akhlakul karimah.
Kata etika sering juga disebut dengan etik saja. Karena itu, mengenai apa yang baik dan apa yang buruk, serta membedakan prilaku atau sikap yang dapat diterima dengan yang ditolak guna mencapai kebaikan dalam kehidupan. Etik menyangkut nilai-nilai sosial budaya yang telah disepakati bersama. Jadi pada dasarnya etika itu sifatnya tidak mutlak, karena antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya memiliki norma-norma atau aturan dan kode etik yang berbeda.
Menurut Mufri Amir, mengutip dari pemikiran Bin Syamsuddin, bahwa etika terutama dalam perspektif Islam, bisa dipahami secara sempit dan luas, yakni hal-hal yang bersifat motivatif (mendorong), karena itu akhlak meliputi etik dan etos. Tercantum Q.S. al- qalam ayat 4,
    
yang artinya :
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung”

Kata akhlak banyak ditemukan dalam hadist-hadist Nabi dan salah satunya yang paling populer adalah hadist yang diriwayatkan oleh imam Malik yang artinya : “ Sesungguhnya (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak”.
Hadist tersebut menegaskan bahwa Nabi Muhammad sebagai rasul Allah adalah semata-mata memperbaiki akhlak atau perilaku umat manusia agar sesuai dengan nilai-nilai yang diturunkan oleh Allah seperti yang tertuang dalam Al-qur’an. Adapun Akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika, jika etika dibatasi dengan sopan santun antara sesama manusia, serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah semata.

2. Penyuluhan, Bimbingan, dan Konsultasi Islam
Bimbingan Islam (Irsyad) merupakan salah satu bentuk kegiatan dakwah, yaitu suatu proses penyampaian ajaran Islam oleh seorang mursyid (da’i) kepada seorang mursyad bih (mad’u) atau kepada mad’u dalam kelompok kecil (jamaah) guna memberikan bantuan berupa pengasuhan dan perawatan mengenai aspek kejiwaan mursyad bih (mad’u). Istilah irsyad secara eksplisit disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 19 (sembilan belas) kali dalam 9 (sembilan) bentuk kata. Menurut Fakhruddin, bentuk asal kata irsyad adalah al-irsyad berarti petunjuk, kebenaran ajaran, dan bimbingan dari Allah Swt. yang mengandung suasana kedekatan antara pemberi dan penerima al-Irsyad, dan menurut al-Masudi, bahwa irsyad berarti menunjukkan kebenaran ajaran dan membimbing orang lain dalam menjalankannya yang berlangsung dalam suasana tatap muka dan penuh keakraban. Dalam perspektif ilmu dakwah proses irsyad berlangsung dalam konteks dakwah nafsiah, fardiyah dan fi’ah.
Jadi yang dimaksud dengan Kode Etik Penyuluh, Pembimbing dan Konsultan Islam adalah tata cara yang berkenaan dengan prilaku seorang Mursyid dalam menyampaikan ajaran Islam demi keefektifan dakwah dengan metode ini.

B. Metode Penyampaian Pesan dalam Irsyad
Menurut Syukriadi Sambas pesan-pesan irsyad dapat disampaikan melalui bentuk ahsanu qaulan dan ahsanu amalan, yang pertama cara penyampaian pesan irsyad dengan menggunakan bahasa yang baik dan yang kedua dengan menggunakan perbuatan yang baik. Bentuk ahsanu qaulan dan ahsanu amalan dalam menyampaikan pesan bimbingan Islam menurut Ya’qub terbagi menjadi sembilan macam, yaitu: (1) metode graduasi (al-tadaruj); (2) metode levelisasi (muraat almustawayat); (3) metode variasi (al-tanwi wa al-taghayir); (4) metode keteladanan (al-Uswah wa al-qudwah); (5) metode aplikatif (al-tathbiqi wa al-amali); (6) metode pengulangan (al-Takrir wa al-muraja’ah); (7) metode evaluasi (al-taqyim); (8) metode dialog (hiwar); dan (9) metode cerita atau kisah (al-Qishahs).
Sedangkan menurut Al-Khuli, metode irsyad (thuruq al-irsyad) sebenarnya banyak, namun yang paling penting dan terkenal terdapat lima macam metode yaitu (1) metode khithabah; (2) metode dars (pengajaran); (3) metode tamtsil (perumpamaan); (4) metode uswah shalihah (keteladanan perilaku yang baik); dan (5) metode kitabah (tulisan).
Kaitannya dengan metode yang digunakan dalam proses bimbingan Islam (Irsyad) sebagaimana dinyatakan oleh ketiga pakar tersebut di atas, terutama mengenai ahsanu qaulan dari Sukriadi Sambas, metode hiwar (dialog) dari Ya’qub dan metode khitabah dari Al-Khuly, sebagai bentuk penyampaian pesan melalui bahasa lisan yang baik dalam bentuk nasihat atau bentuk lainnya dihadapan mursyad bih (mad’u) yang berlangsung secara tatap muka dalam suasana dialogis dengan tujuan menggugah kesadaran kalbu mad’u atas segala tugas kehambaan dan kekhalifahannya, dan membantu pemecahan problema kehidupan mental dan sosial mursyad bih (mad’u). Tampaknya perlu dipahami bahwa ahsanu qaulan dan khithabah dalam bimbingan berbeda dengan tabligh (difusi), karena ahsanu qaulan dan khitabah dalam irsyad berbentuk hiwar (dialog) hingga bersifat dialogis (two way communication) melalui komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) sedangkan ahsanu qaulan dan khitabah dalam tabligh bersifat monologis (one way communication) melalui komunikasi publik (public speaking).

C. Irsyad dalam Aspek Komunikasi
Bimbingan Islam yang berlangsung secara tatap muka dan penuh keakraban maka dibutuhkan komunikasi yang tepat sesuai konteks dan suasana yang diharapkan, lebih-lebih bila irsyad yang berlangsung sampai pada tahap terapi (syifa), karena hal tersebut dapat saja terjadi mengingat syifa merupakan salah satu fungsi dari Bimbingan Islam (irsyad). Komunikasi yang dianggap tepat dalam proses bimbingan Islam (irsyad) adalah komunikasi antarpribadi (interpersonal communication). Hal tersebut didasarkan pada asumsi bahwa komunikasi antarpribadi memiliki beberapa prinsip seperti yang dibutuhkan dalam proses bimbingan Islam (irsyad), yaitu interaksinya bersifat tatap muka, membangun hubungan dan partisipannya saling berbagi peran dan sekaligus bertanggungjawab untuk saling menciptakan makna.

1. Proses Komunikasi Interpersonal Dalam Bimbingan Islam
Semua peristiwa komunikai interpersonal merupakan hasil dari peoses yang kompleks dengan melibatkan baik kognisi (pemikiran) maupun perilaku (perbuatan). Oleh karenannya pemahaman tentang elemen-elemen komunikasi antarpribadi merupakan langkah awal dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan komunikasi interpersonal. Untuk kepentingan tersebut, tampaknya menjadi perlu adanya pembahasan mengenai elemen-elemen komunikasi antarpribadi (interpersonal communication).
Menurut Rudolph dan Kathleen elemen-elemen utama dalam proses komunikasi yang dimaksud adalah sebagai berikut:
 Partisipan
Partisipan dalam komunikasi interpersonal bisa dianggap melakukan dua peran, yaitu pengirim dan penerima, dan dalam sebagian besar situasi interpersonal, partisipan melakukan dua peran tersebut sekaligus. Sebagai pengirim, kita membentuk pesan dan berusaha mengkomunikasikannya pada orang lain melalui simbol-simbol verbal dan perilaku nonverbal. Sebagai penerima, kita memproses pesan dan perilaku yang kita terima dan kita tanggapi. Persamaan dan perbedaan yang mungkin menimbulkan efek yang paling besar terhadap partisipan adalah fisik (ras, jenisk elamin, usia); psikologis (kepribadian, sikap, nilai, tingkat kepercayaan diri); sosial (tingkat pengalaman dalam menghadapi orang lain dan situasi kompleks); intelektual (pengetahuan dan keterampilan); dan ciri-ciri gender atau budaya.
 Konteks
Konteks dalam komunikasi interpersonal mempengaruhi ekspektasi partisipan, makna yang diterima partisipan, dan perilaku berikutnya. Konteks yang dimaksudkan disini adalah lingkungan (1) fisik, (2) sosial, (3) historis, (4) psikologis, (5) kultural yang melingkupi peristiwa komunikasi.
Aturan
Meskipun keyakinan dan nilai yang diakui bersama-sama merupakan ciri-ciri penting dari kultur, aturan komunikasi dalam sebuah kulturlah yang secara langsung mempengaruhi cara orang berinteraksi. Aturan yang dimaksudkan adalah resep tidak tertulis yang menunjukkan perilaku apa yang diharuskan, disukai, atau dilarang dalam konteks tertentu.””Aturan komunikasi memberi petunjuk pada kita tentang pesan atau perilaku seperti apa yang sesuai dalam konteks fisik atau sosial tertentu atau sesuai dengan orang atau kelompok orang tertentu. Pada saat yang sama aturan juga menyediakan kerangka untuk menafsirkan perilaku orang lain.
 Pesan
Pesan adalah ungkapan verbal dan perilaku nonverbal yang dikaitkan dengan makna selama proses komunikasi. Untuk memahami cara kerja pesan yang kompleks, kita harus memahami makna dan simbol, enkoding dan dekoding, dan bentuk dari organisasi pesan. Dalam komunikasi interpersonal, makna diciptakan melalui pengiriman dan penerimaan pesan. Pesan secara mudah bisa diartikan sebagai sekedar kata-kata yang dikirimkan dari satu orang ke orang lain. Bagi seorang pembimbing (mursyid) kemampuan menyusun pesan (massage competence) merupakan kemampuan yang penting, karena pentingnya maka kekurang mampuan dalam menyusun pesan menjadikan komunikasi tidak efektif bahkan secara bagi mereka yang kurang mampu menyusun pesan mereka akan terpisah dari kehidupan normal.
 Saluran
Segera setelah terbentuk, pesan dikirim melalui saluran pancaindera. Pesan lisan disampaikan dari satu orang ke orang lain melalui gelombang suara; pesan tertulis dan nonverbal, termasauk pesan isyarat, ekspresi wajah, gerak-isyarata, dan gerakan, disampaikan melalui gelombang cahaya. Meskipun komunikasi interpersonal biasanya menggunakan dua saluran dasar tersebut, yaitu suara dan cahaya, orang bisa berkomunikasi melalui lima saluran pancaindera yang mana pun. Bau harum dan habat tangan erat bisa sma pentingnya dengan apa yang kita liha tdan kita dengar.
 Noise
Noise adalah semua stimulus yang mengganggu penyampaian makna. Noise bisa bersifat eksternal atau internal bagi partisipan, atau disebabkan oleh simbol pesan. Noise dalam komunikasi antarpribadi pada dasarnya terbagi pada (1) noise Eksternal; (2) noise internal; dan (3) noise semantis.

 Umpan Balik (Feedback)
Umpan balik adalah respon terhadap sebuah pesan. Respons tersebut merefleksikan makna yang diciptakan dan saling dimengerti melalui pesan terdahulu. Umpan balik menunjukkan kepada orang yang mengirim pesan apakah dan bagaimana pesan tersebut didengar, dilihat, dan dipahami. Jika respon verbal dan nonverbal menunjukkan kepada pengirim bahwa makna personal yang dimaksud tidak tersampaikan, pengirim pertama bisa mencoba menemukan cara lain mengenkoding pesan tersebut untuk meluruskan makna yang dipahami dengan makna semula. Umpan balik dalam proses komunikasi memainkan peran yang yang amat penting sebab ia menentukan berlanjut komunikasi atau atau berhentinya komunikasi yang dilancarkan oleh komunikator, dan umpan balik pada komunikasi antarpribadi karena situasinya tatap muka (face to face communication), tanggapan komunikan dapat segera diketahui karena bersifat langsung atau umpan balik seketika(immediate feedback).

2. Menjadi Komunikator Interpersonal yang Kompeten
Kompetensi adalah kesan atau penilaian yang dibuat oleh seseorang tentang orang lain. Kita menciptakan persepsi bahwa kita adakah komunikator yang kompeten melalui pesan verbal yang kita kirimkan dan perilaku nonverbal yang menyertainya. Persepsi tentang kompetensi sebagian tergantung pada motivasi, pengetahuan, dan keterampilan personal. Oleh karena itu, yang dimaksud kompetensi komunikasi adalah kesan bahwa perilaku komunikatif itu tepat dan efektif dalam satu hubungan tertentu (Spitzberg, 1997).
Komunikasi dikatakan efektif apabila bisa mencapai tujuannya dan komunikasi dikatakan tepat apabila sesuai dengan yang diharapkan dalam hubungan tersebut. Secara khusus, jika komunikasi itu tepat, setiap orang meyakini bahwa orang lain mematuhi aturan sosial tentang perilaku yang berlaku pada jenis hubungan mereka dan situasi percakapan yang melibatkan mereka. Kombinasi antar motivasi, pengetahuan, dan keterampilan mengarahkan kita menjadi komunikator yang kompeten, sebab (1) seberapa besar keinginan seseorang untuk membuat kesan yang baik dan berkomunikasi secara efektif memungkan orang lebih termotivasi untuk mendapatkan penghargaan; (2) semakin orang memahami bagaimana berperilaku dalam situasi tertentu, semakin mungkin mereka dikatakan kompeten; dan (3) apablia keterampilan komunikator bertambah, kompetensi komunikator juga bertambah, karena semakin banyak keterampilan yang kita miliki, semakin mungkin kita mampu menyusun pesan kita agar menjadi efektif dan tepat dalam berkomunikasi.
Paling tidak ada lima keterampilan yang menunjang seseorang menjadi kompeten dalam komunikasi, yaitu:
 Keterampilan membentuk-pesan menambah keakuratan dan kejelasan pesan yang dikirim.
 Keterampilan suasana-percakapan menambah kemungkinan anda dan partner anda mengembangkan hubungan yang saling mendukung, yaitu hubungan yang menimbulkan kepercayaan satu sama lain.
 Keterampilan mendengarkan untuk memahami menambah kemungkinan anda bisa memahami makna orang lain.
 Keterampilan empati-respon menambah kemungkinan anda mampu memahami dan merespon pengalaman emosional orang lain.
 Keterampilan menyingkap menambah kemungkinan anda akan berbagi gagasan dan perasaan dengan cara yang jujur dan sensitif.

3. Prinsip-prinsip Komunikasi Interpersonal
Prinsip-prinsip komuniksi interpersonal adalah :
 Komunikasi interpersonal bersifat relasional,
 Komunikasi interpersonal mengandung maksud tertentu,
 Komunikasi interpersonal bisa dipelajari,
 Komunikasi interpersonal berlangsung terus-menerus,
 Pesan komunikasi interpersonal berubah-ubah dalam proses enkoding secara sadar,
 Komunikasi interpersonal mempunyai implikasi etnis

3 thoughts on “KODE ETIK PENYULUH, PEMBIMBING, DAN KONSULTAN ISLAM

  1. Ping balik: Etika Dakwah « ulfianti

  2. I Think that post, “KODE ETIK PENYULUH, PEMBIMBING, DAN KONSULTAN
    ISLAM | Rizqisme” Roman Shades ended up being good! I reallycould not agree along with you
    even more! At last seems like I actuallycame across a internet site really worth looking through.
    Thanks for the post, Darla

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s