DASAR-DASAR JURNALISTIK

Oleh :MUSRIADI MUSANIF
(Wartawan/Kepala Desk Khusus Harian Umum Singgalang)

SELUK-BELUK BERITA

Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan komunikasi untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Boleh dikatakan, tiada hari dalam hidup kita yang terlewat tanpa komunikasi. Dalam berkomunikasi, terjadi penyaluran informasi dari satu pihak kepada pihak lain melalui sarana tertentu. Sarana ini tentu saja beragam bentuknya; mulai dari yang paling sederhana seperti bahasa tubuh, sampai yang paling canggih seperti internet. Salah satu sarana komunikasi yang sudah akrab dengan kehidupan kita adalah media massa, baik media cetak maupun elektronik. Yang jadi pertanyaan, apa perbedaan media massa dengan sarana komunikasi lainnya?

Secara umum, media massa menyampaikan informasi yang ditujukan kepada masyarakat luas (coba bandingkan dengan telepon yang hanya ditujukan kepada orang tertentu). Karena ditujukan kepada masyarakat luas, maka informasi yang disampaikan haruslah informasi yang menyangkut kepentingan masyarakat luas, atau yang menarik perhatian mereka.

Agar informasi dapat sampai ke sasaran (khalayak masyarakat) sesuai yang diharapkan, maka media massa harus mengolah informasi ini melalui proses kerja jurnalistik. Dan informasi yang diolah oleh media massa melalui proses kerja jurnalistik ini merupakan apa yang selama ini kita kenal sebagai berita. Secara umum, kita dapat menyebutkan bahwa media massa merupakan sarana untuk mengolah peristiwa menjadi berita melalui proses kerja jurnalistik.

Dengan demikian, jelaslah bahwa peristiwa memiliki perbedaan yang sangat konseptual dengan berita. Peristiwa merupakan kejadian faktual yang sangat objektif, sementara berita merupakan peristiwa yang telah diolah melalui bahasa-bahasa tertentu, dan disampaikan oleh pihak tertentu kepada pihak-pihak lain yang memerlukan atau siap untuk menerimanya.
Adanya proses penyampaian oleh pihak-pihak tertentu dan melalui bahasa-bahasa tertentu ini, menyebabkan suatu berita tidak pernah seratus persen objektif. Ia akan sangat dipengaruhi oleh subjektivitas si penyampai berita, mulai dari subjektivitas yang paling sederhana seperti perbedaan persepsi, sampai subjektivitas yang amat konseptual seperti warna ideologi. Contoh sederhana: pers Barat menyebut pejuang Palestina sebagia pemberotak, harian Republika menyebut posisi Amerika Serikat di Irak sebagai penjajah, dan sebagainya. Dengan kata lain, suatu peristiwa akan mengalami “deviasi” ketika diubah menjadi berita.

Berita, dengan demikian, merupakan sesuatu yang cukup rumit jika ditinjau dari segi teori. Demikian rumitnya, sehingga belum ada seorang ahli pun yang hingga saat ini berhasil menyusun definisi yang memuaskan mengenai berita. “Pekerjaan” paling memuaskan yang pernah mereka lakukan adalah merumuskan apa yang disebut sebagai nilai berita, yaitu kriteria-kriteria tertentu yang menentukan apakah suatu peristiwa layak disebut sebagai berita atau tidak.


KRITERIA PERISTIWA LAYAK BERITA:

a. Magnitude, yaitu seberapa luas pengaruh suatu peristiwa bagi khalayak. Contoh: Berita tentang kenaikan harga BBM lebih luas pengaruhnya terhadap seluruh masyarakat Indonesia ketimbang berita tsunami di Kepulauan Solomon.
b. Significance, yaitu seberapa penting arti suatu peristiwa bagi khalayak. Contoh: Berita tentang wabah SARS lebih penting bagi khalayak ramai ketimbang berita tentang kenaikan harga BBM.
c. Actuality, yaitu tingkat aktualitas suatu peristiwa. Berita tentang kampanye calon presiden sangat menarik jika dibaca pada tanggal 1 hingga 30 Juni 2004. Setelah itu, berita seperti ini akan menjadi sangat basi.
d. Proximity, yaitu kedekatan peristiwa terhadap khalayak. Contoh: Bagi warga Jawa Barat, berita tentang gempa bumi di Bandung lebih menarik ketimbang berita tentang gempa bumi di Surabaya.
e. Prominence, yaitu akrabnya peristiwa dengan khalayak. Contoh: Berita-berita tentang AFI (Akademi Fantasi Indosiar) lebih akrab bagi kalangan remaja Indonesia ketimbang berita-berita tentang Piala Thomas.
f. Human Interest, yaitu kemampuan suatu peristiwa untuk menyen-tuh perasaan kemanusiaan khalayak. Contoh: Berita tentang Nirmala, TKI Indonesia yang dianiaya di Malaysia, diminati oleh khalayak ramai, karena berita ini mengandung nilai human interest yang sangat tinggi.

Perlu diingat bahwa suatu berita tidak harus memenuhi semua kriteria di atas. Namun semakin banyak unsur tersebut yang melekat dalam suatu peristiwa, maka nilai beritanya semakin tinggi.

PROSES KERJA JURNALISTIK

Di depan telah disebutkan bahwa media massa mengolah informasi melalui proses kerja jurnalistik. Dan ini berlaku untuk semua organisasi yang bergerak di bidang penerbitan pers, tanpa terkecuali. Tahapan-tahapan proses kerja jurnalistik yang berlaku dalam media cetak adalah sebagai berikut:
a. Rapat Redaksi, yaitu rapat untuk menentukan tema-tema yang akan ditulis dalam penerbitan edisi mendatang. Dalam rapat ini dibahas juga mengenai pembagian tugas reportase.
b. Reportase. Setelah rapat redaksi selesai, para wartawan yang telah ditunjuk harus “turun ke lapangan” untuk mencari data sebanyak mungkin yang berhubungan dengan tema tulisan yang telah ditetapkan. Pihak yang menjadi objek reportase disebut nara sumber. Nara sumber ini bisa berupa manusia, makhluk hidup selain manusia, alam, ataupun benda-benda mati. Jika nara sumbernya manusia, maka reportase tersebut bernama wawancara.
c. Penulisan Berita. Setelah melakukan reportase, wartawan media cetak akan melakukan proses jurnalistik berikutnya, yaitu menulis berita. Di sini, wartawan dituntut untuk mematuhi asas 5 W + 1 H yang bertujuan untuk memenuhi kelengkapan berita. Asas ini terdiri dari WHAT (apa yang terjadi), WHO (siapa yang terlibat dalam kejadian tersebut), WHY (mengapa terjadi), WHEN (kapan terjadinya), WHERE (di mana terjadinya), dan HOW (bagaimana cara terjadinya). Selain rumus di atas, ada pula rumus lain yang maknanya sama, namun mendekati tatanan kehidupan kita selaku orang Minangkabau, yakni ASMA DIKABA, singkatan dari A, SIA, MANGA, DIMA, KAPAN DAN BAA.
d. Editing, yaitu proses penyuntingan naskah yang bertujuan untuk menyempurnakan penulisan naskah. Penyempurnaan ini dapat menyangkut ejaan, gaya bahasa, kelengkapan data, efektivitas kalimat, dan sebagainya.
e. Setting dan Layout. Setting merupakan proses pengetikan naskah yang menyangkut pemilihan jenis dan ukuran huruf. Sedangkan layout merupakan penanganan tata letak dan penampilan fisik penerbitan secara umum. Setting dan layout merupakan tahap akhir dari proses kerja jurnalistik. Setelah proses ini selesai, naskah dibawa ke percetakan untuk dicetak sesuai oplah yang ditetapkan.

TEKNIK PENULISAN BERITA

Setelah melakukan wawancara, wartawan media cetak akan melakukan proses jurnalistik berikutnya, yaitu menulis berita. Ada dua jenis penulisan berita yang dikenal secara umum, yaitu penulisan straight news dan feature news.
STRAIGHT NEWS merupakan teknik penulisan berita yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
– Menggunakan gaya bahasa to the point alias lugas.
– Inti berita, yaitu masalah terpenting dalam berita tersebut, tertulis pada alinea pertama. Makin ke bawah, isi berita makin tidak penting. Dengan demikian, dengan membaca alinea pertama saja, atau cuma membaca judulnya, orang akan langsung tahu apa isi berita tersebut.
– Jenis tulisan ini cenderung mentaati asas 5 W + 1 H.
– Gaya penulisan ini biasanya digunakan oleh surat kabar yang terbit harian. Terbatasnya waktu orang-orang membaca koran, membuat para pengelola surat kabar harus menyusun gaya bahasa yang selugas mungkin, sehingga pembaca akan langsung tahu apa isi suatu berita hanya dengan membaca sekilas.
Sedangkan jenis tulisan FEATURE NEWS memilik ciri-ciri sebagai berikut:
– Gaya penulisannya merupakan gabungan antara bahasa artikel dengan bahasa sastra, sehingga cenderung enak dibaca.
– Inti berita tersebar di seluruh bagian tulisan. Karena itu, untuk mengetahui isi tulisan, kita harus membaca dari kalimat pertama sampai kalimat terakhir.
– Asas 5 W + 1 H masih digunakan, tetapi tidak terlalu penting.
– Gaya penulisan ini biasanya dipakai oleh majalah/tabloid yang terbit secara berkala. Pembaca biasanya memiliki waktu yang lebih luang untuk membaca majalah/tabloid, sehingga gaya bahasa untuk media ini dapat dibuat lebih “nyastra” dan “bergaya”, sehingga pembaca merasa betah dan “menikmati” tulisan tersebut dari awal sampai akhir.
Dalam membuat sebuah berita, sesungguhnya yang dilakukan oleh seorang wartawan tak jauh beda dengan seorang tukang perabot yang membuat sebuah kursi. Sebelum memulai kerja, sudah harus terbayang sebuah peralatan berkaki empat yang dilengkapi dengan sandaran dan tempat duduk. Tingginya sekitar 35 cm dari lantai. Kita sepakat, itulah yang dinamakan dengan kursi. Berdasarkan gambaran itulah, bisa diprediuksi apa saja bahan dan peralatan yang diperlukan.

Begitu jugalah dengan seorang wartawan. Pertama sekali yang akan disediakan adalah peralatannya. Setelah peralatan tersedia, dilengkapi lagi dengan bahan-bahan yang diperlukan
Untuk menyusun sebuah berita, maka terlebih dahulu sang wartawan harus mengetahui tahapan persiapan dalam penulisan berita berikut ini:
a. Pahami masalah
b. Kumpulkan bahan
c. Seleksi bahan
d. Tentukan tema pokok/ide cerita
e. Tentukan urutan logis (judul, lead, badan berita dan penutup

Judul berita terdiri dari 2 sampai 5 kata yang disajikan secara ringkas, mengasosikan sesuatu yang langsung bisa diingat pembaca. Lead adalah dua hingga tiga kalimat yang mengintisarikan berita, dengan membaca lead saja, pembaca jadi tertarik untuk membaca kelanjutannya. Badan atau tubuh berita berisi sajian secara lengkap dari bahan-bahan yang dituliskan. Sedangkan ending atau penutup berisi beberapa kalimat yang menyimpulkan berita.

Bentuk berita dan artikel terdiri dari tiga macam, yakni berbentuk beraturan, piramida dan piramida terbalik. Dari ketiga bentuk itu, bentuk beraturan dan piramida terbali8k yang sering digunakan orang. Bentunk piramida terbalik, sering digunakan media cetak harian dan elektronik, karena dengan bentuk itu, wartawan menuliskan laporannya dengan mengutamakan hal-hal yang terpenting. Cara penulisan berita seperti ini jelas menguntungkan, sebab mempermudah tim editing dalam melakukan pemotongan kata atau kalimat apabila deadline sangat singkat.

Lain halnya dengan bentuk beraturan, bentuk ini digunakan penulis dengan tanpa melihat hal terpenting, namun penulis cukup menulis sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Sehingga dengan demikian, bentuk beraturan sangat tepat digunakan dalam menulis artikel, karenanya bentuk itu lazim digunakan media cetak non harian semisal majalah, dan tabloid mingguan yang memiliki deadline yang panjang (mingguan, dua minggu, sebulan atau triwulan).

Ada dua hal pokok yang harus diperhatikan oleh seorang reporter dalam menulis berita, yakni elemen kejelasan dan akurasi.
1. Kejelasan
Singkat
Berita yang jelasnya umumnya bukanlah berita yang panjang lebar, melainkan justru berita yang ringkas dan terfokus. Berita yang ringkas memberi kesan tangkas dan penuh vitalitas. Tanpa kata mubazir dalam kalimatnya dan tanpa kalimat mubazir dalam alineanya. Berita yang ringkas tak ubahya seperti lukisan yang tegas, tanpa garis yang tak perlu, atau mesin yang efektif, tanpa suku cadang yang tak berfungsi. Berita yang jelas dimulai dengan pembuatan kalimat yang sederhana, ringkas dan tepat makna.

– Langsung dan Tepat Sasaran
Tulislah ringkas, tidak bertele-tele. Gunakan kata atau kalimat spesifik untuk mewakili pengertian yang mengena. Meluruskan apa saja yang berliku-liku, menggergaji yang bergerigi. Berperang melawan kekaburan dan segala sesuatu yang mendua.

Organisasi
Mulailah menulis sebuah berita secara kuat, untuk memikat pembaca memasukinya. Jika mungkin, gunakan gaya bahasa naratif –gaya seorang pendongeng yang ahli—sebagai pendekatan dasar. Selesai menuliskan sebuah paragraf, pikirkan apa yang pembaca ingin ketahui pada alinea berikutnya, dan buatlah transisi serta keterkaitan antaraliena secara mulus. Cobalah untuk selalu menjaga konsistensi tema dalam keseluruhan berita. Dan seperti biasa, dibuka dengan kuat, tutup juga berita dengan tegas, tanpa membiarkan kejanggalan.
Akurasi
Informasi yang penting adalah informasi yang akurat dan jelas. Wartawan dan pembaca mempunyai keperluan yang berbeda, namun bisa bekerjasama. Wartawan tak ada artinya tanpa pembaca, dan pembaca masuk dalam sebuah cerita dengan harapan besar bisa memahami semuanya. Tanggungjawab yang terbesar ada pada sang wartawan. Jika wartawan mengkhianati harapan pembaca dengan membuat sejumlah kesalahan atau kekurangtepatan, dia merusak kerjasama yang telah terbentuk. Ketidakakuratan biasanya disebabkan kecerobohan, kemalasan, penipuan dan ketidakpedulian wartawan dalam menuliskan hasil reportasenya. Pengecekan ulang sebelum kita menulis, membaca kembali dengan hati-hati dan mengeceknya kembali setelah kita menulis adalah benteng terbaik terhadap ketidakakuratan.
Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mencermati sebuah fakta guna menguji keakuratan informasi yang akan disajikan dalam sebuah berita:
Jangan Menebak
Wartawan harus memegang betul apa saja yang diketahui dan apa saja yang dimengerti. Jika tidak benar-benar memahami, cek kembali hal itu atau tinggalkan sama sekali. Jangan pernah mengira-ngira.
Angka
Ceklah dua kali semua angka dan jumlah. Sebuah angka sering tak memiliki makna, kecuali diletakkan pada konteks yang mudah dipahami pembaca. Angka tentang omset penjualan, misalnya, tak punya makna jika tak disertai omset penjualan tahun lalu, berapa prosentase kenaikannya atau penurunannya dari tahun-tahun sebelumnya. Angka juga seringkali lebih bermakna jika disertai penjelasan yang menyentuh pembaca.
Nama, Tanggal dan Tempat
Tak ada orang yang suka namanya ditulis dengan salah. Usahakan untuk meminta sumber berita mengeja sendiri nama, sekaligus gelar dan nama panggilannya. Lihat di buku rujukan yang terpercaya. Jangan percaya hanya pada leaflet atau selebaran atau omongan teman.
Catatan penting tentang nama sumber: sebagian besar nama orang Indonesia terdiri atas dua kata (kecuali Soeharto, misalnya). Cantumkan nama lengkap ketika pertama kali Anda menyebutkan dalam laporan. Pada saat kita menulis tentang tanggal, lihatlah kalender lebih dahulu. Ketika menulis tentang tempat, lihatlah kembali peta. Jika mungkin, milikilah sebuah buku pintar, infopedi, tabel konversi, kalender dan peta kecil. Letakkan pada tempat yang mudah dijangkau, sehingga tak enggan kita untuk mengecek sesuatu fakta.
Kutipan
Apakah sesuatu kutipan benar-benar seperti yang dikatakan oleh sumber? Apakah catatan kita benar dan kita berani mempertahankan sampai di meja pengadilan? Jika tidak, sebaiknya dijelaskan dengan kata-kata kita sendiri saja.
Terburu-buru
Kata-kata yang sering digunakan sebagai permintaan maaf atas beberapa kesalahan adalah: ‘’Saya tidak punya waktu untuk mengeceknya kembali.’’ Alasan ini jelas tidak bisa diterima. Kendati didesak oleh deadline, namun kita dituntut untuk tetap tenang dan tidak terburu-buru dalam menulis berita.
Cerita Bohong
Sangat jarang penerbitan yang tidak memasukkan hal ini ke dalam beritanya. Keragu-raguan adalah perlindungan yang terbaik. Jika sebuah berita atau kenyataan seolah-olah sangat aneh atau menakjubkan untuk dipercaya, jangan percaya hal ini sebelum ada pembuktiannya.
Kesalahan Teknis
Perhatian yang istimewa sangat dibutuhkan pada tulisan khusus seperti ilmu pengetahuan, hukum, kedokteran, teknik, keuangan dan sejenisnya. Sediakan waktu untuk menelitinya, dan kemudian ceklah kembali informasi yang kita peroleh melalui pakar yang dapat dipercaya pada bidang tersebut, sehingga kita terkait dengan kesalahan-kesalahan yang bersifat teknis.
Rekayasa
Manipulasi, perubahan konteks, distorsi, pemaparan yang salah, sindiran, kebencian, gosip, kabar angin dan melebih-lebihkan kerap mempengaruhi berita sehingga melahirkan berita-berita yang direkayasa. Semua ini sangat tinggi ongkosnya, sementara hasilnya sangat rendah. Untuk itu, hidarilah rekayasa dalam penulisan berita.
PRINSIP DASAR TUGAS JURNALISTIK
Untuk menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas, seorang wartawan hendaknya mematuhi prinsip-prinsip dasar yang berlaku dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistik. Beberapa di antaranya adalah:
1. Wartawan harus menulis berdasarkan prinsip both sides writing. Artinya, dalam membahas suatu masalah, mereka harus menampilkan pendapat dari pihak yang pro dan yang kontra. Ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan opini.
2. Dalam melakukan wawancara, wartawan harus menghargai sepenuhnya hak-hak nara sumber. Wartawan tidak boleh memuat hasil wawancara yang oleh nara sumber dinyatakan of the record. Bagi nara sumber yang merupakan saksi mata sebuah kejahatan atau menjadi korban perkosaan misalnya, wartawan wajib merahasiakan identitas mereka. Ini bertujuan untuk menjaga keselamatan atau nama baik nara sumber.
3. Wartawan tidak selayaknya memasukkan opini pribadinya dalam sebuah karya jurnalistik. Yang seharusnya ditampilkan dalam tulisan adalah opini para nara sumber.
4. Setiap pernyataan yang terangkum dalam karya jurnalistik hendaknya disertai oleh data yang mendukung. Jika tidak, pers dapat dianggap sebagai penyebar isu atau fitnah belaka. Akibatnya, kepercayaan masyarakat terhadap pers menjadi berkurang. Bahkan pihak yang “terkena” oleh pernyataan yang tanpa data tadi, dapat menggiring pengelola pers ke pengadilan.

ANTARA PERISTIWA DAN BERITA
Peristiwa adalah sesuatu yang sifatnya amat objektif. Misalnya: Ada orang yang ditabrak oleh mobil di jalan raya. Ini adalah sesuatu yang sangat objektif. Sedangkan berita adalah peristiwa yang diceritakan. Ketika peristiwa diceritakan oleh seorang saksi mata kepada orang lain, maka peristiwa ini telah berubah menjadi berita. Dan berita tidak akan pernah seratus persen objektif.

Kenapa? Sebab ketika si saksi mata menceritakan sebuah peristiwa, pasti subjektivitas dirinya sudah terlibat di dalam berita tersebut. Subjektivitas ini bisa dalam skala yang paling kecil (seperti gaya bercerita), yang agak besar (sikap si saksi mata terhadap peristiwa tersebut), hingga yang berskala besar (seperti idealisme, kepentingan bisnis atau politik, dan sebagainya).

Berikut adalah sebuah contoh nyata tentang subjektivitas berita. Kita andaikan, peristiwa di atas diceritakan oleh tiga orang saksi mata, yakni Ani, Budi, dan Yani.
ANI : Wah, tadi ada orang yang ditabrak mobil di jalan raya. Kasihan, deh. Dia luka parah dan enggak ada yang mau nolong.
BUDI: Tadi pas gue lewat di jalan raya, ada yang ketabrak mobil. Lukanya enggak begitu parah, sih. Tapi anehnya, kok enggak ada yang mau nolong, ya?
YANI: Tadi ada orang yang ketabrak mobil. Syukurin tuh orang. Makanya, kalo nyeberang lihat kiri kanan dulu.
Coba perhatikan, dan rasakan subjektivitas masing-masing berita di atas. Maka, sebenarnya TAK ADA BERITA YANG 100 % OBJEKTIF. Kalaupun ada yang mengaku sebagai media massa yang objektif (contohnya yang ini), mungkin mereka hanya mencoba seobjektif mungkin.
Perbedaan sikap dan cara bercerita ketiga orang di atas adalah contoh subjektivitas, tapi masih berskala kecil. Dalam prakteknya di dunia jurnalistik, subjektivitas ini bisa berskala lebih besar, misalnya karena menyangkut ideologi, misi dan visi setiap penerbitan, dan sebagainya. Sebagai contoh, beberapa tahun lalu di situs berita luar negeri terdapat sebuah foto yang sebenarnya biasa-biasa saja. Adegannya adalah seorang ibu berjilbab sedang diperiksa oleh petugas keamanan di depan pintu masuk sebuah mal di Jakarta.
Mereka yang tinggal di Jakarta tentu tahu, bahwa adegan seperti ini sudah jadi pemandangan umum, tak ada yang istimewa. Karena banyak bom yang meledak, setiap gedung merasa perlu memeriksa semua tamu yang masuk. Tapi coba lihat, apa yang ditulis oleh situs berita luar negeri tersebut. Pada komentar foto, dia menulis seperti ini: Seorang wanita muslim diperiksa oleh pihak keamanan di depan pintu masuk sebuah mal di Jakarta.
Memang benar, wanita yang diperiksa itu seorang muslim, karena dia pakai jilbab. Tapi kita tak bisa membaca sebuah berita apa adanya seperti itu. Kita perlu bertanya secara kritis, seperti ini:
Kenapa si wartawan menulis “seorang wanita muslim”? Pemilihan kata seperti ini bisa menimbulkan kesan bahwa yang diperiksa di depan mal hanyalah orang muslim. Kesan selanjutnya, seolah-olah semua umat Islam itu patut dicurigai sehingga perlu diperiksa. Padahal kenyataannya, setiap orang tanpa kecuali (apapun agama dan golongannya) akan diperiksa kalau mereka hendak memasuki mal.
Kemungkinan besar si wartawan – ketika memburu foto di depan mal – tak hanya memotret wanita berjilbab tadi. Pasti banyak orang yang yang terekam oleh kameranya. Tapi kenapa yang ditampilkan di situsnya hanya si wanita berjilbab? Itulah contoh yang jelas mengenai subjektivitas berita. Intinya, tak ada berita yang benar-benar objektif.
Jadi, walaupun ada prinsip bahwa seorang jurnalis tidak boleh menyampaikan pendapat atau opininya secara langsung di dalam sebuah tulisan jurnalistik, dalam prakteknya subjektivitas tetap tak bisa dicegah. Karena itu, jurnalistik juga mengenal sejumlah kiat untuk menyampaikan pesan, opini, dan sebagainya, tanpa harus “melanggar” aturan di atas.
Berikut adalah beberapa di antaranya.
01. Pemilihan istilah
Sebagai contoh, coba bandingkan kedua kalimat ini:
Pemberontak Palestina menyerbu markas tentara Israel.
Pejuang Palestina menyerbu markas tentara Israel.
Kedua kalimat di atas sebenarnya sama saja. Yang berbeda cuma pada kata “pemberontak” dan “pejuang”.
Kita tentu tahu, kedua istilah ini punya makna yang berbeda. Pemberontak biasanya identik dengan penjahat atau pengkhianat negara, sedangkan pejuang adalah orang yang bekerja untuk meraih sesuatu yang mulia. Pemberontak bermakna negatif, sedangkan pejuang bermakna positif. Kalimat pertama adalah contoh kalimat yang sering dipakai oleh pers Barat yang anti Islam. Mereka hendak memberi kesan bahwa Palestina berbuat salah karena menyerang Israel. Padahal kenyataannya, justru rakyat Palestina yang berjuang untuk memerdekakan negara mereka dari jajahan Israel.
02. Menonjolkan pendapat tokoh yang satu misi dengan kita
Memang, seorang wartawan hendaknya menampilkan pendapat dari dua kubu yang berbeda. Dari yang pro maupun yang kontra. Supaya beritanya berimbang. Tapi dalam teknis penulisan, kita bisa mengatur agar tulisan kita membawa misi sesuai yang kita harapkan.
Contoh: Si wartawan hendak menulis berita tentang kontes Miss Universe, tapi Anda tak setuju dengan acara ini. Setelah mewawancarai tokoh-tokoh yang pro dan kontra, dia menulis beritanya seperti ini (contoh):
”Miss Universe itu boleh-boleh saja, kok. Mereka kan mengharumkan nama bangsa,” ujar Mr. X. Pendapat senada dilontarkan oleh Mr. Y. Katanya, “Kontes Miss Universe bisa menunjang pariwisata kita.” Namun pendapat berbeda disampaikan oleh Mr. Z. Menurutnya, kontes Miss Universe itu tidak ada gunanya sama sekali. “Itu hanyalah ajang pamer aurat. Biaya penyelenggaraan acaranya bisa dipakai untuk membantu rakyat miskin,” tandasnya tegas.
Coba perhatikan. Pendapat yang pro diletakkan di bagian awal, sementara pendapat yang kontra (yang sejalan dengan misi penulisnya) diletakkan di bagian akhir. Ini tentu ada maksudnya. Biasanya, yang muncul belakangan adalah kesimpulan. Jadi dengan penempatan pendapat yang sesuai misi kita di bagian akhir, kita dapat menggiring pembaca untuk setuju dengan pendapat kita.
03. Seleksi terhadap materi berita
Secara teori, kita bisa memasukkan informasi apa saja untuk mendukung berita yang kita tulis. Misalnya, kita ingin memuat sebuah foto tentang keakraban antara ibu dengan anak. Di sini, kita bisa memilih: si ibunya ini pakai jilbab atau tidak? Jika kedua pilihan ini tidak mempengaruhi pesan yang hendak disampaikan, maka tak ada salahnya jika kita memilih foto ibu yang berjilbab. Sebab ini bisa menjadi sarana yang baik untuk memasyarakatkan pemakaian jilbab di kalangan pembaca
04. Menonjolkan informasi tertentu dan dan tidak menonjolkan informasi lainnya
Contoh kasus: Ada dua materi yang bisa kita tampilkan: liputan konser nasyid dan liputan konser dangdut. Yang mana yang harus dimuat? Jika tujuannya adalah dakwah, kita punya pilihan sebagai berikut.
a. Memuat liputan konser nasyid, sementara liputan konser dangdut tak dimuat.
b. Memuat kedua liputan ini. Tapi liputan konser nasyid dibahas secara lebih lengkap, dan ditonjolkan di halaman depan. Sementara liputan dangdut dibahas sekilas saja.
Apakah hal seperti ini diperbolehkan? Tentu saja boleh. Yang tak boleh adalah berbohong. Kita pasti tahu, trik seperti di atas bukan termasuk bohong.
05. Membentuk citra tertentu
Apa yang dimaksud dengan citra? Untuk lebih jelasnya, coba perhatikan kedua contoh paragraf berikut.
Contoh 1:
Konser musik rock tadi malam berlangsung meriah. Penonton jingkrak-jingkrak dan berteriak histeris, mengelu-elukan idola mereka. Acara berlangsung sejak pukul empat sore hingga sepuluh malam. Penonton tampak puas dengan penampilan artis-artis di atas panggung. “Asyik aja pokoknya. Lain kali kalo ada acara seperti ini, gue pasti datang,” ujar Doni, salah seorang penonton yang datang jauh-jauh dari Tasikmalaya untuk menonton konser ini.
Contoh 2:
Konser musik rock tadi malam berlangsung meriah. Penonton jingkrak-jingkrak dan berteriak histeris, mengelu-elukan idola mereka. Acara berlangsung sejak pukul empat sore hingga sepuluh malam. Shalat magrib pun terlewat. Suasana riuh tetap terasa di seluruh lapangan. Banyak botol minuman keras dan puntung rokok berserakan di atas rumput. Penonton tampaknya menikmati acara yang sangat meriah ini. Namun tak jauh dari lokasi konser, seorang penduduk setempat mengajukan keluhannya. “Bising banget, Mas. Kami kagak bisa tidur semalaman,” ujarnya.
Coba perhatikan. Kedua contoh di atas sebenarnya menginformasikan peristiwa yang sama. Tapi ada perbedaan yang sangat jelas di dalam sudut pandang pemberitaannya. Itulah salah satu contoh pembentukan citra. Dua orang jurnalis membentuk citra yang berbeda dari informasi yang sama. Apakah boleh menampilkan tulisan dengan cara seperti itu? Boleh-boleh saja, kok. Secara umum, si jurnalis hanya bermain-main dengan “persepsi”. Setiap orang tentu punya persepsi atau pandangan yang berbeda-beda mengenai sesuatu, kan?
Nah, itulah beberapa metode yang biasa diterapkan oleh wartawan di dalam menyampaikan opini atau misi/visi mereka. Sebenarnya masih banyak teknik lainnya. Tapi semoga penjelasan di atas bisa memberi gambaran yang memadai.
B. KIAT MELAKUKAN WAWANCARA
SUMBER berita, selain diperoleh dalam suatu peristiwa atau kejadian di lapangan juga bisa dari hasil wawancara. Mengadakan wawancara atau interview pada prinsipnya merupakan usaha untuk menggali keterangan yang lebih dalam dari sebuah berita dari sumber lain yang relevan. Informasi atau keterangan itu bisa berupa pendapat, kesan, pengalaman, pikiran dan sebagainya.
Dalam dunia jurnalistik, wawancara selalu dimaksudkan sebagai upaya untuk mendapatkan berita, komentar atau opini sehubungan dengan sesuatu yang berhubungan dengan otoritas yang dimiliki seseorang. Misalnya, untuk mendapatkan keterangan atau informasi tentang kampanye advokasi penegelolaan sumberdaya hutan yang adil dan berkelanjutan atau perubahan PP tentang pengelolaan hutan negara.
Person yang mempunyai otoritas untuk itu cukup banyak, dari Kelopok Tani Hutan, Kepala Dinas Kehutanan sampai Menteri Kehutanan. Namun wawancara yang dilakukan untuk mendapat bahan tulisan yang bersifat ‘human interesT’ tidak harus dilakukan dengan seseorang yang mempunyai otoritas tetapi siapapun bisa menjadi sumber berita untuk diwawancarai. Misalnya, kelompok tani di Gunungkidul dan Kulonprogo yang tengah berjuang untuk mendapat izin pengelolaan hutan negara tidak hanya sekadar 5 tahun, tetapi 35 tahun.
Perjuangan ini sangat menarik karena menyangkut mati hidup kelompok tani yang berada di sekitar hutan. Hidup dan matinya masyarakat di sekitar hutan tiba-tiba diputus tentu akan menjadi pusat perhatian. Untuk melengkapi dan mempertajam suatu berita wartawan harus melakukan wawancara. Misalnya, seseorang berhasil mengendus kasus illegal logging, selain memberitakan kasus didapatkan dari pernyataan seseorang harus mencari informasi yang akurat dan faktual untuk mendapat kebenaran dari kasus tersebut kepada yang lebih punya otoritas untuk memperjelas persoalan, siapa di balik kasus tersebut dan sebagainya.
Hasil wawancara diharapkan menjadi laporan yang lebih lengkap dengan mengungkapkan fakta yang lebih lengkap pula, memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang illegal logging. Wawancara dapat dilakukan dengan pemangku adat, polisi hutan, masyarakat di sekitar hutan, juga penguasa di tingkat kelurahan, kecamatan, kabupaten, gubernur, Kapolri sampai pelaku.
Dengan demikian berita yang disajikan merupakan perpaduan antara fakta (facsnews) dan opini atau pendapat atau omongan (talk news). Untuk menggali keterangan atau informasi atau keterangan dari seseorang, wawancara yang diperlukan tidak sekadar sambil lalu, tetapi memerlukan kekhususan.
Dalam dunia jurnalistik wawancara khusus opini mempunyai nilai tambah, lebih-lebih kalau yang menjadi sumber wawancara memiliki nama atau keistimewaan dan opini yang dikemukakan merupakan suatu yang sama sekali baru dan belum pernah dikemukakaan kepada media lain.
Persiapan Wawancara
Untuk melakukan wawancara memerlukan persiapan dengan langkah-langklah sebagai berikut:
a. Sebelum melakukan wawancara harus menguasai persoalan yang akan dipercakapkan, kalau perlu membuat daftar pertanyaan dari yang bersifat umum sampai detail.
b. Menentukan arah permasalahan yang digali dengan dilengkapi berbagai berita berkaitan dengan bahan yang akan dijadikan bahan wawancara.
c. Menetapkan siapa-siapa saja yang akan menjadi nara sumber untuk diwawancarai. Dalam hal ini harus jelas kriterianya mengapa dalam masalah ini harus mewawancarai nara sumber tersebut.
d. Mengenali sifat-sifatnya yang akan menjadi nara sumber sebelum wawancara. Untuk mengenali lebih dekat nara sumber, bertanya kepada orang lain yang tahu atau dekat dengan nara sumber, atau membaca tulisan dan riwayat hidup termasuk hobi, keluarganya, dan kesukaan lainnya.
e. Sebelum bertatap muka membuat janji dulu sebelum melakukan wawancara, untuk meminta dan m,enentukan kapan waktu yang luang dan tepat untuk melakukan wawancara, karena biasanya sumber berita person yang sibuk, sehingga pengaturan waktu cukup ketat.
f. Persiapan mental untuk mengadakan wawancara, karena masing-masing pribadi punya karakter yang berbeda, sehingga diperlukan membaca karakter calon nara sumber. Persiapan lainnya, peralatan yang diperlukan antara lain, bloknote, ballpoint, tape recorder atau kamera kalau memang diperlukan. Dianjurkan untuk berpakaian rapi dan menghindari penampilan yang kurang sopan.
Persiapan-persiapan tersebut penting untuk mendapat perhatian, karena jangan sampai mempermalukan diri sendiri, lebih-lebih lembaga yang menjadi induk dari kegiatan wawancara ini. Dengan persiapan yang matang insya Allah mampu menggali sumber berita atau informasi yang diperlukan untuk mengembangkan berita dan sekali lagi sebelum bertemu dengan nara sumber cek ulang peralatan jurnalistik.
Untuk mendapatkan hasil yang baik maka harus mampu menemukan orang yang, sesuai dengan bidang dan keahlian, atau bisa juga karena hobi terkait dengan permasalahan yang akan menjadi topik wawancara. Misalnya, soal kerusakan lingkungan tentunya wawancara di arahkan kepada orang-orang menguasai masalah tersebut, sehingga pembicaraan ‘nyambung’.
Kalau sudah ada janji mau wawancara dan waktu sudah ditentukan, maka sudah selayaknya menepati waktu yang sudah disepakati bersama. Namun wawancara itu bisa dilakukan di mana dan kapan saja, asal sama-sama dalam kondisi yang memang sifatnya serba mendadak, tetapi penguasaan masalah tetap harus dipegang, supaya informasi yang didapatkan sesuai dan memberi nilai tambah pada berita yang diharapkan.
Wawancara bisa dilaksanakan di mana saja, seperti di depan pintu, ketika nara sumber sedang masuk mobil asal nara sumber memberi kesempatan seperti itu. Namun itu diperlukan persiapan matang dari wartawan yang bersangkutan, terutama pengenalan lebih dulu pewawancara dengan nara sumber.
2. Pelaksanaan Wawacara
Tiba saatnya wawancara yang perlu mendapat perhatian hal-hal sebagai berikut:
a. Menjaga Suasana
Ini sangat penting dalam pelaksanaan wawancara dibuat lebih rileks, sehingga berjalan dengan santai tidak terlalu formal meskipun membahas masalah yang serius. Untuk menciptakan suasana yang nyaman dan baik memerlkan waktu, karena itu sebelum memasuki materi yang akan dipercakapkan lebih enak kalau dibuka dengan hal-hal yang umum. Misalnya, soal keadaan nara sumber baik itu masalah kesehatan, hobi dan sebagainya yang mungkin menyetuh hati. Meski sifat basa-basi ini diperlukan untuk menarik simpati supaya nara sumber, sehingga tidak terlalu pelit dengan pernyataan atau pendapat baru. Kecuali kalau pewawancara sudah sangat dekat, basa-basi itu bisa dikurangi, lebih-lebih kalau memang waktu untuk wawancara sangat terbatas, pewawancara harus tanggap. Itupun juga kita dibicarakan sebelum melangsungkan wawancara. Dalam menjaga suasana ini sudah selayaknya dilakukan, antara lain jangan membuat nara sumber marah atau tersinggung, sehingga percakapan langsung diputus. Jangan marah-marah atau memojokkan nara sumber.
b. Bersikap Wajar
Dalam wawancara seringkali berhadapan dengan nara sumber yang benar-benar pakar, tetapi tidak jarang yang dihadapi tidak menguasai persoalan. Namun demikian tidak perlu rendah diri atau merasa lebih tinggi dari nara sumber, seharusnya bisa mengimbangi atau mengangkatnya. Pewawancara juga harus bisa mencegah supaya nara sumber tidak berceramah, karena itu persiapan menghadapi berbagai karakter ini sangat diperlukan. Karena itu dalam persiapan wawancara ini diperlukan, menguasai materi, selain menguasai nara sumber dan pandai-pandai membawakan diri agar tidak direndahkan. Apabila menghadapi nara sumber yang tidak menguasai masalah bisa mengarahkan tetapi tanpa harus menggurui, sehingga bisa memahami persoalan yang akan digali.
c. Memelihara Situasi
Secara sadar sering terbawa emosi, sehingga lupa sedang menghadapi nara sumber, karena itu dalam wawancara harus pandai-pandai memelihara situasi supaya mendapat informasi yang dibutuhkan dan jangan sampai terjebak ke dalam situasi perdebatan dengan nara sumber yang diwawancarai. Juga perlu dihindari situasi diskusi yang berkepanjangan atau bertindak berlebihan sampai menjurus ke arah interograsi apalagi menghakimi. Misalnya, wawancara dengan seorang direktur rumah sakit terkait dengan kasus flu burung, karena etika kedokteran, sehingga harus dijaga dirahasiakan. Namun pewawancara memaksakan kehendak, sehingga menimbulkan ketegangan dan menghakimi direktur tersebut, bukan mendapat informasi malah tidak mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Dalam menghadapi kasus seperti itu pewawancara harus mampu mencari celah untuk kembali pada situasi, agar mendapatkan informasi yang lebih jelas.
d. Tangkas Menarik Kesimpulan
Pada saat wawancara berlangsung dituntut untuk secara setia mengikuti setiap jawaban yang diberikan nara sumber untuk menarik kesimpulan dengan tangkas. Dengan kesimpulan yang tepat wawancara terus bisa dilanjutkan secara lancer. Kesalahan yang sering dilakukan wartawan pada saat mengambil kesimpulan kurang tangkas, sehingga nara sumber harus mengulang kembali apa yang telah disampaikan. Kalau itu terjadi berulangkali maka akan membuat nara sumber bosan, sehingga wawancara tidak berkembang, membuat pintu informasi menjadi tertutup. Akibat yang paling parah kehilangan sumber berita, karena nara sumber takut salah kutip.
Bagi nara sumber yang teliti dan kritis, satu persatu kalimat akan menjadi pengamatan. Salah kutip ini harus dihindari dalam setiap wawancara, Jangan takut minta pernyataan diulang atau bahkan ada kata yang kurang jelas seperti ucapan bahasa Inggris harus selalu dicek kebenaran arti dan ejaannya.
e. Menjaga Pokok Persoalan
Menjaga pokok persoalan sangat penting dalam setiap wawancara agar dalam menggali informasi mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dan hasil yang memuaskan. Seringkali dalam menjaga pokok persoalan ini diliputi perasaan rikuh kalau kebetulan yang diwawancari pejabat atau mempunyai otoritas dalam hal tertentu. Serngkali untuk menjaga situasi ini ada anjuran pewawancara mengikuti apa yang dikatakan nara sumber. Meski harus mengikuti pembicaraan nara sumber diharapkan tidak lari dari pokok persoalan bahkan berusaha mempertajam pokok masalah, agar tetap mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Contohnya, untuk mendapat gambaran yang lebih jelas tentang kerusakan lingkungan, pada awalnya memang bercerita tentang lingkungan tetapi di tengah-tengah pembicaraan membelok ke arah lain dan menyimpang dari pokok persoalan. Kalau sudah demikian maka yang dilakukan segera mengembalikan inti persoalan.
f. Kritis
Sikap kritis perlu dikembangkan dalam wawancara agar mendapat informasi yang lebih terinci dan selengkap-lengkapnya. Untuk itu diperlukan kejelian dalam menangkap persoalan yang berkaitan dengan pokok pembicaraan yang sedang dikembangkan. Jeli dan kritis merupakan kaitan dengan kemampuan menangkap setiap kata dan kalimat yang disampaikan oleh nara sumber. Kekritisan tersebut tidak hanya menyangkut pokok persoalan, tetapi juga menangkap gerakan-gerakan yang diwawancarai.
Berkait dengan pokok persoalan kalau kritis menangkapnya maka bisa meluruskan data bila nara sumber salah mengungkapkannya. Baik itu tentang angka, tempat kejadian dan sebagainya. Ini penting sebagai bahan untuk menuliskan laporan, sehingga benar-benar utuh dan penuh warna. Kalau perlu ketika nara sumber sedang memberikan keterangan dalam keadaan gelisah, terus menerus mengepulkan asap rokok dan sebagainya, hal ini harus ditangkap sebagai isyarat yang bisa dituangkan dalam tulisan. Dengan demikian pembaca mendapat gambaran utuh dan laporan tidak kering.
g. Sopan Santun
Dalam wawancara sopan santun perlu dijaga, karena ini menyangkut etikat pergaulan di dalam masyarakat yang harus mendapat perhatian dan dipegang teguh. Dalam menghadapi nara sumber kendali sudah mengkenal betul, tidak bisa bersikap sembarangan, sombong atau perilaku yang tidak simpatik lainnya. Bila akan merokok, sementara nara sumber tidak merokok harus minta izin. Apalagi kalau ruangan tempat wawancara ber-AC maka sopan santun perlu dijaga. Di awal maupun di akhir wawancara jangan lupa mengucapkan rasa terima kasih kepada nara sumber,. Karena telah memberikan kesempatan dan mendapatkan informasi dari hasil wawancara.
Pada akhir wawancara pesan kepada nara sumber untuk tidak keberatan dihubungi bila ada data yang diperlukan ternyata masih kurang. Hal-hal praktis yang perlu mendapat perhatian dalam mengadakan wawancara berkaitan dengan sopan santun: Tidak perlu gusar bila nara sumber yang menjadi target wawancara menolak dengan alasan sibuk. Mencoba dan mencoba lagi, agar diberi waktu untuk wawancara merupakan suatu upaya, sampai mendapat kesempatan untuk membuat perjanjian waktu. Untuk mendapat perjanjian bisa melalui telepon atau mendatangi langsung kantor atau rumahnya. Dihindari datang terlambat pada saat akan melakukan wawancara dan lebih baik datang lebih awal. Jangan sampai salah mengeja nama orang yang diwawancarai dan lebih baik minta kartu nama atau paling tidak ketika nama nara sumber itu sulit dieja diminta dengan hormat untuk menuliskan di bloknote yang digunakan untuk mencatat hasil wawancara.
Cek kembali peralatan tulis apakah sudah lengkap, karena kalau sampai ada peralatan tidak terbawa bisa membuat suasana awal dari wawancara menjadi kurang berkesan. Sebutkan alasan melakukan wawancara dengan tempat kerja, sehingga nara sumber yang diwawancarai mengerti benar maksud wawancara. Tidak perlu menjanjikan kepada nara sumber hasil wawancara pasti dimuat, namun bisa meberikan keyakinan kegunaan dari hasil wawancara tersebut.
Penulisan Wawancara
Hasil wawancara bisa dituangkan dalam beberapa bentuk penulisan sesuai dengan tujuan wawancara yang telah dilakukan. Bila hasil wawancara akan digabungkan dengan hasil wawancara yang lain, cara menuliskannya akan lain dengan bentuk penulisan yang didasarkan pada satu wawancara. Hasil wawancara dapat dipergunakan untuk bahan penulisan berita atau straight news, laporan atau tulisan khusus wawancara.

C. FEATURE
Mengapa feature?
Secara kasar karya jurnalistik bisa dibagi menjadi tiga:
• Stright/spot News — berisi materi penting yang harus segera dilaporkan kepada publik (sering pula disebut breaking news)
• News Feature — memanfaatkan materi penting pada spot news, umumnya dengan memberikan unsur human/manusiawi di balik peristiwa yang hangat terjadi atau dengan memberikan latarbelakang (konteks dan perspektif) melalui interpretasi.
• Feature — bertujuan untuk menghibur melalui penggunaan materi yang menarik tapi tidak selalu penting.
Dalam persaingan media yang kian ketat tak hanya antar media cetak melainkan juga antara media cetak dengan televisi, straight/spot news seringkali tak terlalu memuaskan. Spot news cenderung hanya berumur sehari untuk kemudian dibuang, atau bahkan beberapa jam di televisi. Spot news juga cenderung menekankan sekadar unsur elementer dalam berita, namun melupakan background.
Kita memerlukan berita yang lebih dari itu untuk bisa bersaing. Kita memerlukan news feature — perkawinan antara spot news dan feature. Karena tradisi ini relatif baru, kita perlu terlebih dulu memahami apa unsur-unsur dan aspek mendasar dari feature.
Apakah feature?
Inilah batasan klasik mengenai feature: ”Cerita feature adalah artikel yang kreatif, kadang kadang subyektif, yang terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek kehidupan.
Kreatifitas
Berbeda dari penulisan berita biasa, penulisan feature memungkinkan reporter ”menciptakan” sebuah cerita. Meskipun masih diikat etika bahwa tulisan harus akurat — karangan fiktif dan khayalan tidak boleh — reporter bisa mencari feature dalam pikirannya, kemudian setelah mengadakan penelitian terhadap gagasannya itu, ia menulis.
Subyektifitas
Beberapa feature ditulis dalam bentuk ”aku”, sehingga memungkinkan reporter memasukkan emosi dan pikirannya sendiri. Meskipun banyak reporter, yang dididik dalam reporting obyektif, hanya memakai teknik ini bila tidak ada pilihan lain, hasilnya enak dibaca. Tapi, reporter-reporter muda harus awas terhadap cara seperti itu. Kesalahan umum pada reporter baru adalah kecenderungan untuk menonjolkan diri sendiri lewat penulisan dengan gaya ”aku”. Kebanyakan wartawan kawakan memakai pedoman begini: ”Kalau Anda bukan tokoh utama, jangan sebut-sebut Anda dalam tulisan Anda.”
Informatif
Feature, yang kurang nilai beritanya, bisa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai situasi atau aspek kehidupan yang mungkin diabaikan dalam penulisan berita biasa di koran. Misalnya tentang sebuah Museum atau Kebun Binatang yang terancam tutup. Aspek informatif mengenai penulisan feature bisa juga dalam bentuk-bentuk lain. Ada banyak feature yang enteng-enteng saja, tapi bila berada di tangan penulis yang baik, feature bisa menjadi alat yang ampuh. Feature bisa menggelitik hati sanubari manusia untuk menciptakan perubahan konstruktif.
Menghibur
Dalam 20 tahun terakhir ini, feature menjadi alat penting bagi suratkabar untuk bersaing dengan media elektronika. Reporter suratkabar mengakui bahwa mereka tidak akan bisa ”mengalahkan” wartawan radio dan televisi untuk lebih dulu sampai ke masyarakat. Wartawan radio dan TV bisa mengudarakan cerita besar hanya dalam beberapa menit setelah mereka tahu. Sementara itu wartawan koran sadar, bahwa baru beberapa jam setelah kejadian, pembacanya baru bisa tahu sesuatu kejadian — setelah koran diantar. Wartawan harian, apalagi majalah, bisa mengalahkan saingannya, radio dan TV, dengan cerita eksklusif. Tapi ia juga bisa membuat versi yang lebih mendalam (in depth) mengenai cerita yang didengar pembacanya dari radio.
Dengan patokan seperti ini dalam benaknya, reporter selalu mencari feature, terhadap berita-berita yang paling hangat. Cerita feature biasanya eksklusif, sehingga tidak ada kemungkinan dikalahkan oleh radio dan TV atau koran lain. Feature memberikan variasi terhadap berita-berita rutin seperti pembunuhan, skandal, bencana dan pertentangan yang selalu menghiasi kolom-kolom berita, feature bias membuat pembaca tertawa tertahan.
Seorang reporter bisa menulis ”cerita berwarna-warni” untuk menangkap perasaan dan suasana dari sebuah peristiwa. Dalam setiap kasus, sasaran utama adalah bagaimana menghibur pembaca dan memberikan kepadanya hal-hal yang baru dan segar.
Awet
Menurut seorang wartawan kawakan, koran kemarin hanya baik untuk bungkus kacang. Unsur berita yang semuanya penting luluh dalam waktu 24 jam. Berita mudah sekali ”punah”, tapi feature bisa disimpan berhari, berminggu, atau berulan bulan. Koran-koran kecil sering membuat simpanan ”naskah berlebih” – kebanyakan feature. Feature ini diset dan disimpan di ruang tata muka, karena editor tahu bahwa nilai cerita itu tidak akan musnah dimakan waktu.
Dalam kacamata reporter, feature seperti itu mempunyai keuntungan lain. Tekanan deadline jarang, sehingga ia bisa punya waktu cukup untuk mengadakan riset secara cermat dan menulisnya kembali sampai mempunyai mutu yang tertinggi.
Sebuah feature yang mendalam memerlukan waktu cukup. Profil seorang kepala polisi mungkin baru bisa diperoleh setelah wawancara dengan kawan-kawan sekerjanya, keluarga, musuh-musuhnya dan kepala polisi itu sendiri. Diperlukan waktu juga untuk mengamati tabiat, reaksi terhadap keadaan tertentu perwira itu
Singkat kata, berbeda dengan berita, tulisan feature memberikan penekanan yang lebih besar pada fakta-fakta yang penting –fakta-fakta yang mungkin merangsang emosi (menghibur, memunculkan empati, disampil tetap tidak meninggalkan unsure informatifnya). Karena penakanan itu, tulisan feature sering disebut kisah human interest atau kisah yang berwarna (colourful).
Teknik penulisan feature
Jika dalam penulisan berita yang diutamakan ialah pengaturan fakta-fakta, maka dalam penulisan feature kita dapat memakai teknik ”mengisahkan sebuah cerita”. Memang itulah kunci perbedaan antara berita ”keras” (spot news) dan feature. Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah.
Penulis melukis gambar dengan kata-kata: ia menghidupkan imajinasi pembaca; ia menarik pembaca agar masuk ke dalam cerita itu dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama. Penulis feature untuk sebagian besar tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan itu.
”Piramida terbalik” (susunan tulisan yang meletakkan informasi-informasi pokok di bagian atas, dan informasi yang tidak begitu penting di bagian bawah – hingga mudah untuk dibuang bila tulisan itu perlu diperpendek) sering ditinggalkan. Terutama bila urutan peristiwa sudah dengan sendirinya membentuk cerita yang baik.
Jenis-jenis Feature
a. Feature Kepribadian (Profil)
Profil mengungkap manusia yang menarik. Misalnya, tentang seseorang yang secara dramatik, melalui berbagai liku-liku, kemudian mencapai karir yang istimewa dan sukses atau menjadi terkenal karena kepribadian mereka yang penuh warna. Agar efektif, profil seperti ini harus lebih dari sekadar daftar pencapaian dan tanggal tanggal penting dari kehidupan si individu. Profil harus bisa mengungkap karakter manusia itu.
Untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, penulis feature tentang pribadi seperti ini seringkali harus mengamati subyek mereka ketika bekerja; mengunjungi rumah mereka dan mewawancara teman-teman, kerabat dan kawan bisnis mereka. Profil yang komplit sebaiknya disertai kutipan-kutipan si subyek yang bisa menggambarkan dengan pas karakternya. Profil yang baik juga semestinya bisa memberikan kesan kepada pembacanya bahwa mereka telah bertemu dan berbicara dengan sang tokoh.
Banyak sumber yang diwawancara mungkin secara terbuka mengejutkan Anda dengan mengungkap rahasia pribadi atau anekdot tentang si subyek. Tapi, banyak sumber lebih suka meminta agar identitasnya dirahasiakan. Informasi sumber-sumber itu penting untuk memberikan balans dalam penggambaran si tokoh.
b. Feature Sejarah
Feature sejarah memperingati tanggal-tanggal dari peristiwa penting, seperti proklamasi kemerdekaan, pemboman Hiroshima atau pembunuhan jenderal-jenderal revolusi. Koran juga sering menerbitkan feature peringatan 100 tahun lahir atau meninggalnya seorang tokoh. Kisah feature sejarah juga bisa terikat pada peristiwa-peristiawa mutakhir yang memangkitkan minat dalam topik mereka. Jika musibahgunung api terjadi, Koran sering memuat peristiwa serupa di masa lalu.
Feature sejarah juga sering melukiskan landmark (monumen/gedung) terkenal, pionir, filosof, fasilitas hiburan dan medis, perubahan dalam komposisi rasial, pola perumahan, makanan, industri, agama dan kemakmuran. Setiap kota atau sekolah memiliki peristiwa menarik dalam sejarahnya. Seorang penulis feature yang bagus akan mengkaji lebih tentang peristiwa-peristiwa itu, mungkin dengan dokumen historis atau dengan mewawancara orang-orang yang terlibat dalam peristiwa-peristiwa bersejarah.
c. Feature Petualangan
Feature petualangan melukiskan pengalaman-pengalaman istimewa dan mencengangkan — mungkin pengalaman seseorang yang selamat dari sebuah kecelakaan pesawat terbang, mendaki gunung, berlayar keliling dunia, pengalaman ikut dalam peperangan. Dalam feature jenis ini, kutipan dan deskripsi sangat penting. Setelah bencana, misalnya, penulis feature sering menggunakan saksi hidup untuk merekontruksikan peristiwa itu sendiri. Banyak penulis feature jenis ini memulai tulisannya dengan aksi — momen yang paling menarik dan paling dramatis.
d. Feature Musiman
Reporter seringkali ditugasi untuk menulis feature tentang musim dan liburan, tentang Hari Raya, Natal, dan musim kemarau. Kisah seperti itu sangat sulit ditulis, karena agar tetap menarik, reporter harus menemukan angle atau sudut pandang yang segar.
e. Feature Interpretatif
Feature dari jenis ini mencoba memberikan deskripsi dan penjelasan lebih detil terhadap topik-topik yang telah diberitakan. Feature interpretatif bisa menyajikan sebuah organisasi, aktifitas, trend atau gagasan tertentu. Misalnya, setelah kisah berita menggambarkan aksi terorisme, feature interpretatif mungkin mengkaji identitas, taktik dan tujuan terotisme. Berita memberikan gagasan bagi ribuan feature semacam ini. Setelah perampokan bank, feature interpretatif bisa saja menyajikan tentang latihan yang diberikan bank kepada pegawai untuk menangkal perampokan. Atau yang mengungkap lebih jauh tipikal perampok bank, termasuk peluang perampok bisa ditangkap dan dihukum.
f. Feature Kiat (how-to-do-it feature)
Feature ini berkisah kepada pembacanya bagaimana melakukan sesuatu hal: bagaimana membeli rumah, menemukan pekerjaan, bertanam di kebun, mereparasi mobil atau mempererat tali perkawinan. Kisah seperti ini seringkali lebih pendek ketimbang jenis feature lain dan lebih sulit dalam penulisannya.
D. TEKNIK MENULIS ARTIKEL/KOLOM
Banyak yang ingin menulis ke media tapi bingung bagaimana memulainya. Ada dua cara:
1. Mempelajari teori menulis baru praktik;
2. Learn the hard way atau menulis dulu teori belakangan.
Terserah kita mana yang lebih enak dan nyaman. Tapi, berdasarkan pengalaman rekan-rekan di India yang tulisannya sudah banyak dimuat di media, alternatif kedua tampaknya lebih bagus. Rizqon Khamami, Zamhasari Jamil, A. Qisai, Tasar Karimuddin, Beben Mulyadi, Jusman Masga, Irwansyah, dan lain-lain semuanya belajar menulis dengan langsung mengirim tulisannya. Bukan dengan belajar teori menulis lebih dulu.
Saya sendiri merasa alternatif kedua lebih enak. Ini karena kemampuan daya serap saya terhadap teori sangat terbatas. Saya pernah mencoba belajar teori menulis. Hasilnya? Pusing. Bukan hanya itu, bahkan dalam belajar bahasa Inggris pun, saya cenderung langsung membaca buku, koran atau majalah. Pernah saya coba belajar bahasa Inggris dengan membaca grammar, hasilnya sama: pusing kepala.
Sulitkah Menulis?
Iya dan tidak. Sulit karena kita menganggapnya sulit. Mudah kalau kita anggap “santai”. Eep Saifullah Fatah, penulis dan kolomnis beken Indonesia, mengatakan bahwa menulis akan terasa mudah kalau kita tidak terlalu terikat pada aturan orang lain. Artinya, apa yang ingin kita tulis, tulis saja.
Sama dengan gaya kita menulis buku diary. Setidaknya, itulah langkah awal kita menulis: menulis menurut gaya dan cara kita sendiri. Setelah beberapa kali kita berhasil mengirim tulisan ke media — dimuat atau tidak itu tidak penting– barulah kita dapat melirik buku-buku teori menulis, untuk mengasah kemampuan menulis kita. Jadi, tulis-tulis dahulu; baca teori menulis kemudian. Seperti kata Rhoma Irama, penyanyi kesayangan Malik Sarumpaet.
Topik Tulisan
Topik tulisan, seperti pernah saya singgung dalam posting beberapa bulan lalu, adalah berupa tanggapan tentang fenomena sosial yang terjadi saat ini. Contoh, apa tanggapan Anda tentang bencana gempa dan tsunami di Aceh? Apa tanggapan Anda seputar pemerintahan SBY? Apa tanggapan Anda tentang dunia pendidikan di Indonesia? Dan lain-lain.
Sekali lagi, usahakan menulis sampai 700 kata dan maksimum 1000 kata. Dan setelah itu, kirimkan langsung ke media yang dituju. Jangan pernah merasa tidak pede. Anda dan redaktur media tsb. kan tidak kenal. Mengapa mesti malu mengirim tulisan? Kirim saja dahulu, dimuat tak dimuat urusan belakangan. Keep in mind: Berani mengirim tulisan ke media adalah prestasi dan mendapat satu pahala. Tulisan dimuat di media berarti dua prestasi dan dua pahala. Seperti kata penulis dan ustadz KBRI, Rizqon Khamami.
Rendah Hati dan Sifat Kompetitif
Apa hubungannya menulis dengan kerendahan hati? Menulis membuat kita menjadi rendah hati, tidak sombong. Karena ketika kita menulis dan tidak dimuat, di situ kita sadar bahwa masih banyak orang lain yang lebih pintar dari kita. Ini terutama bagi rekan-rekan yang sudah menjadi dosen yang di mata mahasiswa-nya mungkin sudah paling ‘wah’ sehingga mendorong perasaan kita jadi ‘wah’ juga alias ke-GR-an.
Nah, menulis dan mengirim tulisan ke media membuat kita terpaksa berhadapan dengan para penulis lain dari dunia dan komunitas lain yang ternyata lebih pintar dari kita yang umurnya juga lebih muda dari kita. Di situ kita sadar, bahwa kemampuan kita masih sangat dangkal. Kita ternyata tidak ada apa-apanya. Ketika kita merasa tidak ada apa-apanya, di saat itulah sebenarnya langkah awal kita menuju kemajuan. Kita juga akan terbiasa menghargai orang dari isi otaknya bukan dari umur atau senioritasnya apalagi jabatannya.
Di sisi lain, membiasakan mengirim tulisan ke media membuat sikap kita jadi kompetitif. Sekedar diketahui, untuk media seperti SINGGALANG dan KOMPAS, tak kurang dari 70 tulisan opini yang masuk setiap hari, dan hanya 4 tulisan yang dimuat. Bayangkan kalau Anda termasuk dari yang empat itu. Itulah prestasi. Dan dari situlah kita juga belajar menghargai prestasi dan keilmuan serta kekuatan mental juara seseorang.
Meresapi Gaya Orang Menulis
Di bagian sebelumnya disebutkan bahwa cara terbaik memulai menulis adalah LEARN THE HARD WAY. Langsung menulis menurut insting, tanpa belajar teori; bak cowok atau cewek yang rajin menulis diary kala sedang jatuh cinta. Dan langsung dikirim ke media.
Cara lain adalah dengan BANYAK MEMBACA TULISAN/ARTIKEL ORANG yang sudah dimuat. Resapi tutur bahasanya. Teliti cara pengungkapan idenya.
Umumnya tulisan apapun tak luput dari tiga unsur: pengantar, isi dan penutup/kesimpulan. Ketiga unsur ini tak pernah disebut tapi bisa dirasakan. Semakin banyak kita membaca tulisan orang, akan semakin mudah kita menyerap dan membedakan mana yang pengantar, isi dan kesimpulannya; dan semakin mudah kita ‘meneladani’ gaya dan cara ekspresinya.
Biasanya kita akan cenderung meniru gaya penulis tenar yang bentuk dan ide tulisannya paling sesuai dengan ide-ide kita. Rizqon, misalnya, yang cenderung terbawa gaya menulis Ulil Abshar-Abdalla, tokoh muda NU idolanya yang walaupun cuma lulus M.A. sudah sering memberikan general lectures di berbagai universitas beken Amerika seperti di Harvard Univ., Michigan Univ., dan lain-lain. Saat ini, Rizqon tampak sudah pindah meneladani gaya tulisan Saifuddin Zuhri, menteri agama RI era Sukarno yang produktif menulis.
Sedangkan Zamakhsyari Jamil cenderung meniru gaya menulis tokoh pujaannya dari Riau, Tabrani Yunis, bekas tokoh Riau Merdeka. Tulisan-tulisan Tabrani Yunis yang slengekan dan tajam tampak mewarnai tulisan ustadz muda KBRI ini.
Saya sendiri, yang kata ayah saya “berotak lemah dan bodoh”, cenderung meniru gaya tulisan yang mudah dipaham orang, kendatipun saya tidak terfokus meniru satu gaya tertentu. Tulisan-tulisan Hamka, Amin Rais, Jalaluddin Rahmat sangat mudah dicerna otak saya yang lamban, dan mungkin sedikit banyak mempengaruhi gaya saya menulis.
Teknik Menulis Kolom
Dalam dunia sastra, esai dimasukkan dalam kategori non-fiksi, untuk membedakannya dengan puisi, cerpen, novel dan drama yang dikategorikan sebagai fiksi. Membuka halaman-halaman koran atau majalah, kita akan menemukan banyak esai atau opini. Tulisan-tulisan itu punya karakteristik sebagai berikut:
– OPINI: mewakili opini si penulis tentang sesuatu hal atau peristiwa.
– SUBYEKTIFITAS: memiliki lebih banyak unsur subyektifitas, bahkan jika tulisan itu dimaksudkan sebagai analisis maupun pengamatan yang “obyektif”.
– PERSUASIF: memiliki lebih banyak unsur imbauan si penulis ketimbang sekadar paparan “apa adanya”. Dia dimaksudkan untuk mempengaruhi pembaca agar mengadopsi sikap dan pemikiran penulis, atau bahkan bertindak sesuai yang diharapkan penulis.
Meskipun banyak, sayang sekali, tulisan-tulisan itu jarang dibaca. Dalam berbagai survai media, rubrik opini dan editorial (OP-ED) umumnya adalah rubrik yang paling sedikit pembacanya. Ada beberapa alasan:
– SERIUS dan PANJANG: orang mengganggap tulisan rubrik opini terlampau serius dan berat. Para penulis sendiri juga sering terjebak pada pandangan keliru bahwa makin sulit tulisan dibaca (makin teknis, makin panjang dan makin banyak jargon, khususnya jargon bahasa Inggris) makin tinggi nilainya, bahkan makin bergengsi. Keliru! Tulisan seperti itu takkan dibaca orang banyak.
– KERING: banyak tulisan dalam rubrik opini cenderung kering, tidak “berjiwa”, karena penulis lagi-lagi punya pandangan keliru bahwa tulisan analisis haruslah bersifat dingin: obyektif, berjarak, anti-humor dan tanpa bumbu.
– MENGGURUI: banyak tulisan opini terlalu menggurui (berpidato, berceramah, berkhotbah), sepertinya penulis adalah dewa yang paling tahu.
– SEMPIT: tema spesifik umumnya ditulis oleh penulis yang ahli dalam bidangnya (mungkin seorang doktor dalam bidang yang bersangkutan). Tapi, seberapa pun pintarnya, seringkali para penulis ahli ini terlalu asik dengan bidangnya, terlalu banyak menggunakan istilah teknis, sehingga tidak mampu menarik pembaca lebih luas untuk menikmatinya.
KOLOM: “ESSAY WITH STYLE”
Berbeda dengan menulis untuk jurnal ilmiah, menulis untuk koran atau majalah adalah menulis untuk hampir “semua orang”. Tulisan harus lebih renyah, mudah dikunyah, ringkas, dan menghibur (jika perlu), tanpa kehilangan kedalaman—tanpa terjatuh menjadi tulisan murahan.
Bagaimana itu bisa dilakukan? Kreatifitas. Dalam era kebebasan seperti sekarang, seorang penulis dituntut memiliki kreatifitas lebih tinggi untuk memikat pembaca. Pembaca memiliki demikian banyak pilihan bacaan. Lebih dari itu, sebuah tulisan di koran dan majalah tak hanya bersaing dengan tulisan lain di koran/majalah lain, tapi juga dengan berbagai kesibukan yang menyita waktu pembaca: pekerjaan di kantor, menonton televisi, mendengar musik di radio, mengasuh anak dan sebagainya.
Mengingat “reputasi” esai sebagai bacaan serius, panjang dan melelahkan, tantangan para penulis esai lebih besar lagi. Dari situlah kenapa belakangan ini muncul “genre” baru dalam esai, yakni “creative non-fiction”, atau non-fiksi yang ditulis secara kreatif.
Dalam “creative non-fiction”, penulis esai mengadopsi teknik penulisan fiksi (dialog, narasi, anekdot, klimaks dan anti klimaks, serta ironi) ke dalam non-fiksi. Berbeda dengan penulisan esai yang kering dan berlagak obyektif, “creative non-fiction” juga memungkinkan penulis lebih menonjolkan subyektifitas serta keterlibatan terhadap tema yang ditulisnya. Karena memberi kemungkinan subyektifitas lebih banyak, esai seperti itu juga umumnya menawarkan kekhasan gaya (“style”) serta personalitas si penulis.
Di samping kreatif, kekuatan tulisan esai di koran atau majalah adalah pada keringkasannya. Tulisan itu umumnya pendek (satu halaman majalah, atau dua kolom koran), sehingga bisa ditelan sekali lahap (sekali baca tanpa interupsi).
PENULISAN KOLOM INDONESIA
“Creative non-fiction” bukan “genre” yang sama sekali baru sebenarnya. Pada dasawarsa 1980-an dan awal 1990-an kita memiliki banyak penulis esai/kolom yang handal, mereka yang sukses mengembangkan “style” dan personalitas dalam tulisannya. Tulisan mereka dikangeni karena memiliki sudut pandang orisinal dan ditulis secara kreatif, populer serta “stylist”.
Para penulis itu adalah: Mahbub Junaedi, Goenawan Mohamad, Umar Kayam, YB Mangunwijaya, MAW Brower, Syubah Asa, Dawam Rahardjo, Abdurrahman Wahid, Arief Budiman, Mochtar Pabottingi, Rosihan Anwar, dan Emha Ainun Nadjib. Untuk menunjukkan keluasan tema, perlu juga disebut beberapa penulis esai/kolom lain yang menonjol pada era itu: Faisal Baraas (kedokteran-psikologi), Bondan Winarno (manajemen-bisnis), Sanento Juliman (seni-budaya), Ahmad Tohari (agama), serta Jalaluddin Rakhmat (media dan agama).
Bukan kebetulan jika sebagian besar penulis esai-esai yang menarik itu adalah juga sastrawan—penyair dan cerpenis/novelis. Dalam “creative non-fiction” batas antara fiksi dan non-fiksi memang cenderung kabur. Bahkan Bondan (ahli manajemen) dan Baraas (seorang dokter) memiliki kumpulan cerpen sendiri. Dawam juga sesekali menulis cerpen di koran.
Namun, pada dasawarsa 1990-an kita kian kehilangan penulis seperti itu. Kecuali Goenawan (“Catatan Pinggir”), Bondan (“Asal-Usul” di Kompas) dan Kayam (Sketsa di Harian “Kedaulatan Rakyat”), para penulis di era 1980-an sudah berhenti menulis (Mahbub, Romo Mangun, Sanento dan Brower sudah almarhum).
Pada era 1990-an ini, kita memang menemukan banyak penulis esai baru—namun inilah era yang didominasi oleh penulis pakar ketimbang sastrawan. Faisal dan Chatib Basri (ekonomi), Reza Sihbudi, Smith Alhadar (luar negeri, dunia Islam), Wimar Witoelar (bisnis-poilik), Imam Prasodjo, Rizal dan Andi Malarangeng, Denny JA, Eep Saefulloh Fatah (politik) untuk menyebut beberapa. Namun, tanpa mengecilkan substansi isinya, banyak tulisan mereka umumnya “terlalu serius” dan kering. Eep barangkali adalah
salah satu pengecualian; tak lain karena dia juga sesekali menulis cerpen.
Sementara itu, kita juga melihat kian jarang para sastrawan muda sekarang menulis esai, apalagi esai yang kreatif. Arswendo Atmowiloto, Ayu Utami dan Seno Gumiro Adjidarma adalah pengecualian. Padahal, sekali lagi, mengingat “reputasi” esai sebagai bacaan serius (panjang dan melelahkan), tantangan kreatifitas para penulis esai lebih besar lagi.
TUNTUTAN BAGI SEORANG PENULIS KOLOM
Kenapa esai astronomi Stephen Hawking (“A Brief History of Time”), observasi antropologis Oscar Lewis (“Children of Sanchez”) dan skripsi Soe Hok Gie tentang Pemberontakan Madiun (“Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”) bisa kita nikmati seperti sebuah novel? Kenapa tulisan manajemen Bondan Winarno (“Kiat”) dan artikel kedokteran-psikologi Faisal Baraas (“Beranda Kita”) bisa dinikmati seperti cerpen?
Hawking, Lewis, Hok Gie, Bondan dan Baraas adalah beberapa penulis “pakar” yang mampu mentrandensikan tema-tema spesifik menjadi bahan bacaan bagi khalayak yang lebih luas. Tak hanya mengadopsi teknik penulisan populer, mereka juga menerapkan teknik penulisan fiksi secara kreatif dalam esai-esai mereka.
Untuk mencapai ketrampilan penulis semacam itu diperlukan sejumlah prasyarat dan sikap mental tertentu:
Keingintahuan dan Ketekunan:
Sebelum memikat keingintahuan pembaca, mereka harus terlebih dulu “memelihara” keingintahuannya sendiri akan sesuatu masalah. Mereka melakukan riset, membaca referensidi perpustakaan, mengamati di lapangan bahkan jika perlu melakukan eksperimen di laboratorium untuk bisa benar-benar menguasai tema yang akan mereka tulis. Mereka tak puas hanya mengetahui hal-hal di permukaan, mereka tekun menggali. Sebab, jika mereka tidak benar-benar paham tentang tema yang ditulis, bagaimana
mereka bisa membaginya kepada pembaca?
Kesediaan untuk berbagi:
Mereka tak puas hanya menulis untuk kalangan sendiri yang terbatas atau hanya untuk pembaca tertentu saja. Mereka akan sesedikit mungkin memakai istilah teknis atau jargon yang khas pada bidangnya; mereka menggantikannnya dengan anekdot, narasi, metafora yang bersifat lebih universal sehingga tulisannya bisa dinikmati khalayak lebih luas. Mereka tidak percaya bahwa tulisan yang “rumit” dan sulit dibaca adalah tulisan yang lebih bergengsi. Mereka cenderung memanfaatkan struktur tulisan sederhana, seringkas mungkin, untuk memudahkan pembaca menelan tulisan
Kepekaan dan Keterlibatan:
Bagaimana bisa menulis masalah kemiskinan jika Anda tak pernah bergaul lebih intens dengan kehidupan gelandangan, pengamen jalanan, nelayan dan penjual sayur di pasar?
Seorang Soe Hok Gie mungkin takkan bisa menulis skripsi yang “sastrawi” jika dia bukan seorang pendaki gunung yang akrab dengan alam dan suka merenungkan berbagai kejadian (dia meninggal di Gunung Semeru). Menulis catatan harian serta membuat sketsa dengan gambar tangan maupun tulisan seraya kita bergaul dengan alam dan lingkungan sosial yang beragam mengasah kepekaan kita. Kepekaan terhadap ironi, terhadap tragedi, humor dan berbagai aspek kemanusiaan pada umumnya. Sastra (novel dan cerpen) kita baca bukan karena susunan katanya yang indah melainkan karena dia mengusung nilai-nilai kemanusiaan.
Kekayaan Bahan (resourcefulness):
Meski meminati bidang yang spesifik, penulis esai yang piawai umumnya bukan penulis yang “berkacamata kuda”. Dia membaca dan melihat apasaja. Hanya dengan itu dia bisa membawa tema tulisannya kepada pembaca yang lebih luas. Dia membaca apa saja (dari komik sampai filsafat), menonton film (dari India sampai Hollywood), mendengar musik (dari dangdut sampai klasik). Dia bukan orang yang tahu semua hal, tapi dia tak sulit harus mencari bahan yang diperlukannya: di perpustakaan mana, di buku apa, di situs internet mana.
Kemampuan Sang Pendongeng (storyteller):
Cara berkhotbah yang baik adalah tidak berkhotbah. Persuasi yang berhasil umumnya disampaikan tanpa pretensi menggurui. Pesan disampaikan melalui anekdot, alegori, metafora, narasi, dialog seperti layaknya dalam pertunjukan wayang kulit.
APA SAJA YANG BISA DIJADIKAN TEMA ESAI?
Kebanyakan penulis pemula mengira hanya tema-tema sosial-politik yang bisa laku dijual di koran. Mereka juga keliru jika menganggap tema-tema seperti itu saja yang membuat penulis menjadi memiliki gengsi.
Semua hal, semua aspek kehidupan, bisa ditulis dalam bentuk esai yang populer dan diminati pembaca. “Beranda Kita”-nya Faisal Baraas menunjukkan bahwa tema kedokteran dan psikologi bisa disajikan untuk khalayak pembaca awam sekalipun. Ada banyak penulis yang cenderung bersifat generalis, mereka menulis apa saja. Namun, segmentasi dalam media dan kehidupan masyarakat sekarang ini menuntut penulis-penulis spesialis.
– Politik lokal (bersama maraknya otonomi daerah)
– Bisnis (industri, manajemen dan pemasaran)
– Keuangan (perbankan, asuransi, pajak, bursa saham, personal finance)
– Teknologi Informasi (internet, komputer, e-commerce)
– Media dan Telekomunikasi
– Seni-Budaya (film, TV, musik, VCD, pentas)
– Kimia dan Fisika Terapan
– Elektronika
– Otomotif
– Perilaku dan gaya hidup
– Keluarga dan parenting
– Psikologi dan kesehatan
– Arsitektur, interior, gardening
– Pertanian dan lingkungan
Pilihlah tema apa saja yang menjadi minta Anda dan kuasai serta ikuti perkembangannya dengan baik. Fokus, tapi jangan gunakan kacamata kuda.
HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN SAAT MENULIS KOLOM:
Mencari ide tulisan
Ada banyak sekali tema di sekitar kita. Namun kita hanya bisa menemukannya jika memiliki kepekaan. Jika kita banyak melihat dan mengamati lingkungan, lalu menuliskannya dalam catatan harian, ide tulisan sebenarnya “sudah ada di situ” tanpa kita perlu mencarinya.
Tema itu bahkan terlalu banyak sehingga kita kesulitan memilihnya. Untuk mempersempti pilihan, pertimbangkan aspek signifikansi (apa pentingnya buat pembaca) dan aktualitas (apakah tema itu tidak terlampau basi).
Merumuskan masalah
Esai yang baik umumnya ringkas (“Less is more” kata Ernest Hemingway) dan fokus. Untuk bisa menjamin esai itu ditulis secara sederhana, ringkas tapi padat, pertama-tama kita harus bisa merumuskan apa yang akan kita tulis dalam sebuah kalimat pendek. Rumusan itu akan merupakan fondasi tulisan. Tulisan yang baik adalah bangunan arsitektur yang kokoh fondasinya, bukan interior yang indah (kata-kata yang mendayu-dayu) tapi keropos dasarnya.
Mengumpulkan Bahan
Jika kita rajin menulis catatan harian, sebagian bahan sebenarnya bisa bersumber pada catatan harian itu. Namun seringkali, ini harus diperkaya lagi dengan bahan-bahan lain: pengamatan, wawancara, reportase, riset kepustakaan dan sebagainya.
Menentukan bentuk penuturan
Beberapa tema tulisan bisa lebih kuat disajikan dalam bentuk dialog. Tapi, tema yang lain mungkin lebih tepat disajikan dengan lebih banyak narasi serta deskripsi yang diperkaya dengan anekdot. Beberapa penulis memilih bentuk penuturan yang ajeg untuk setiap tema yang ditulisnya:
– Dialog (Umar Kayam)
– Reflektif (Goenawan Mohamad)
– Narasi (Faisal Baraas, Bondan Winarno, Ahmad Tohari)
– Humor/Satir (Mahbub Junaedi)
MENULIS
Tata Bahasa dan Ejaan: Taati tata bahasa Indonesia yang baku dan benar. Apakah ejaan katanya benar, di mana meletakkan titik, koma dan tanda hubung? Apakah koma ditulis sebelum atau sesudah penutup tanda kutip (jika ragu cek kebuku rujukan Ejaan Yang Disempurnakan).
Akurasi Fakta: tulisan nonfiksi, betapapun kreatifnya, bersandar pada fakta. Apakah peristiwanya benar-benar terjadi? Apakah ejaan nama kita tulisa secara benar? Apakah rujukan yang kita tulis sama dengan di buku atau kutipan aslinya? Apakah kita menyebutkan nama kota, tahun dan angka-angka secara benar?
Jargon dan Istilah Teknis: hindari sebisa mungkin jargon atau istilah teknis yang hanya dimengerti kalangan tertentu. Kreatiflah menggunakan deskripsi atau anekdot atau metafora untuk menggantikannya. Hindari sebisa mungkin bahasa Inggris atau bahasa daerah.
Sunting dan Pendekkan: seraya menulis atau setelah tulisan selesai, baca kembali. Potong kalimat yang terlalu panjang; atau jadikan dua kalimat. Hilangkan repetisi. Pilih frase kata yang lebih pendek: melakukan pembunuhan bisa diringkas menjadi membunuh. “Tidak” sering bisa diringkas menjadi “tak”, “meskipun” menjadi “meski” dan sebagainya.
Pakai kata kerja aktif: kata kerja aktif adalah motor dalam kalimat, dia mendorong pembaca menuju akhir, mempercepat bacaan. Kata kerja pasif menghambat proses membaca. Pakai kalimat pasif hanya jika tak terhindarkan.
Tak menggurui: meski Anda perlu menunjukkan bahwa Anda menguasai persoalan (otoritatif dalam bidang yang ditulis) hindari bersikap menggurui. Jika mungkin hindari kata “seharusnya”, “semestinya” dan sejenisnya. Gunakan kreatifitas dan ketrampilan mendongeng seraya menyampaikan pesan. Don’t tell it, show it.
Tampilkan anekdot: jika mungkin perkaya tulisan Anda dengan anekdot, ironi dan tragedi yang membuat tulisan Anda lebih “basah” dan berjiwa.
Jangan arogan: orang yang tak setuju dengan Anda belum tentu bodoh. Hormati keragaman pendapat. Opini Anda, bahkan jika Anda meyakininya sepenuh hati, hanya satu saja kebenaran. Ada banyak kebenaran di “luar sana”.
Uji Tulisan Anda: minta teman dekat, saudara, istri, pacar untuk membaca tulisan yang sudah usai. Dengarkan komentar mereka atau kritik mereka yang paling tajam sekalipun. Mereka juga seringkali bisa membantu kita menemukan kalimat atau fakta bodoh yang perlu kita koreksi sebelum diluncurkan ke media.
“MENJUAL” KOLOM KE MEDIA
Apa yang umumnya dipertimbangkan oleh redaktur esai/opini untuk memuat tulisan Anda?
Nama penulis: para redaktur tak mau ambil pusing, mereka umumnya akan cepat memilih penulis yang sudah punya namaketimbang penulis baru. Jika Anda penulis baru, ini merupakan tantangan terbesar. Tapi, bukankah tak pernah ada penulis yang “punya nama” tanpa pernah menjadi penulis pemula? Jangan segan mencoba dan mencoba jika tulisan ditolak. Tidak ada pula penulis yang langsung berada di puncak; mereka melewati tangga yang panjang dan terjal. Anda bisa melakukannya dengan menulis di media mahasiswa, lalu menguji keberanian di koran lokal sebelum menulis untuk koran seperti Kompas atau majalah Tempo.
Otoritas: redaktur umumnya juga lebih senang menerima tulisan dari penulis yang bisa menunjukkan bahwa dia menguasai masalah. Tidak selalu ini berarti sang penulis adalah master atau doktor dalam bidang tersebut.
Style dan Personalitas: tema tulisan barangkali biasa saja, tapi jika Anda menuliskannya dengan gaya “style” yang orisinal dan istimewa serta sudut pandang yang unik, kemungkinan besar sang redaktur akan memuatnya.
Populer: koran dan majalah dibaca oleh khalayak yang luas. Tema tulisan harus cukup populer bagi pembaca awam, tanpa kehilangan kedalaman. Bahkan seorang doktor dalam antropologi adalah pembaca awam dalam fisika. Kuncinya: tidak nampak bodoh dibaca oleh orang yang paham bidang itu, tapi tidak terlalu rumit bagi yang tidak banyak mendalaminya.
MENULIS RESENSI BUKU
Oleh Satrio Arismunandar
Menulis resensi buku sebenarnya mirip dengan memilih calon istri atau calon suami. Mengapa demikian? Karena suatu resensi, apapun obyeknya (resensi film, buku, drama, teater, pembacaan puisi, musik, dan sebagainya), pada akhirnya memberikan suatu penilaian, dan kemudian tentunya suatu pertimbangan, saran, rekomendasi kepada pembaca untuk menentukan sendiri sikapnya terhadap obyek yang diresensi tersebut
Sebelum memilih istri, misalnya, si laki-laki akan membuat penilaian atas berbagai aspek. Aspek luar, yang bisa langsung terlihat: kecantikan, bentuk tubuh, cara bicara, cara makan, dan cara berpakaian, dari calon istrinya. Aspek dalam, yang membutuhkan pengamatan lebih intens: kesabaran, kebaikan hati, sikap pengertian, kesetiaan, kecerdasan, dan sebagainya.
Dalam meresensi buku dan karya-karya lain, hal serupa juga dilakukan. Apakah pertunjukan musik Dewa itu cukup bermutu? Apakah aksi panggungnya menarik? Bagaimana tata suaranya? Apakah dengan kualitas pertunjukan semacam itu, harga karcis masuk Rp 100.000 per orang tidak terlalu mahal?
Apakah buku novel terbaru karya Ayu Utami ini layak dibaca? Apa kelebihan atau kekurangannya dibandingkan karya Ayu sebelumnya, Saman? Adakah unsur-unsur yang baru dalam buku Ayu kali ini, dari segi jalan cerita, karakter tokoh-tokohnya, atau tema yang dipilih? Apakah isinya relevan dengan konteks situasi Indonesia masa kini? Dan seterusnya.
Adanya unsur penilaian inilah yang membedakan resensi buku dari sekadar ringkasan atau rangkuman isi buku belaka. Banyak penulis resensi yang lupa akan esensi suatu resensi, sehingga yang ia tulis sebenarnya cuma ringkasan isi buku. Sampai akhir tulisannya, pembaca tetap tidak tahu apakah buku itu memang layak dibaca atau tidak, apakah isinya bermutu tinggi, rendah, atau sedang-sedang saja.
Persyaratan dan Kriteria
Buku yang mau diresensi: Untuk keperluan resensi buku di media massa, buku yang mau diresensi sebaiknya buku baru, jangan buku lama, meskipun resensi sebetulnya bisa dilakukan terhadap buku mana saja dan terbitan tahun berapa saja. Kalau resensi dilakukan tahun 2005, buku yang diresensi sebaiknya buku terbitan tahun 2005 juga. Hal ini karena media massa mementingkan aspek aktualitas.
Buku yang diresensi sebaiknya juga buku yang cukup baik dan layak dibaca. Pembaca tidak mau membuang-buang waktu untuk membaca resensi terhadap buku yang secara pengamatan kasar saja sudah terlihat betul-betul bernilai “sampah”. Pengelola media massa juga tidak mau menyisihkan ruang di medianya untuk buku semacam itu, karena toh masih banyak buku lain yang jauh lebih bermutu.
Buku yang mau diresensi sebaiknya buku yang isinya memang kita anggap penting diketahui pembaca/masyarakat. Buat apa masyarakat disodori buku yang isinya tidak berkaitan dengan kepentingan mereka? Ada bagusnya juga jika topik/tema buku yang diresensi itu relevan dengan konteks situasi yang berkembang. Sebagai contoh: ketika sedang ramai-ramainya aksi pemboman militer Amerika terhadap Afganistan, dengan dalih mencari tersangka teroris Osama Ben Laden, November 2001, Harian Kompas memuat resensi buku tentang Osama Ben Laden. Aspek kontekstualitas ini penting bagi media massa.
Persyaratan bagi Peresensi
Peresensi sebaiknya memiliki bekal pengetahuan yang memadai untuk memahami isi buku bersangkutan. Peresensi yang sama sekali tidak tahu sastra, dan tidak pernah membaca buku-buku sastra, tentu akan sulit kalau disuruh meresensi novel baru karya Pramudya Ananta Toer.
Contoh lain, orang yang tidak pernah belajar fisika disuruh meresensi buku karya pemenang Nobel Fisika tahun 2005. Ya, kalau dipaksakan tentu saja bisa, tetapi kualitas resensi macam apa yang bisa kita harapkan dari sini?
Ada suatu penerbitan di Amerika, yang isinya sepenuhnya adalah resensi-resensi buku. Yang hebat, para pembuat resensi itu bukan orang sembarangan, tetapi para ahli dan pakar (beberapa di antaranya pemenang Hadiah Nobel). Buku yang diresensi pun adalah karya terpilih, juga karangan orang-orang hebat.
Akibatnya, resensi-resensi yang umumnya sangat panjang dan mengupas secara mendalam isi buku tersebut bernilai tinggi, bahkan mungkin tidak kalah dengan isi buku yang diresensi itu sendiri. Dengan membaca resensi semacam itu, yang ditulis oleh mereka yang sangat menguasai bidang keahliannya, pembaca mendapat tambahan pengetahuan yang luar biasa.
Hal-hal apa yang patut dinilai dalam resensi buku:
Seperti contoh dalam kasus memilih calon istri, dalam meresensi (menilai) suatu buku, secara garis besar ada dua aspek yang bisa dinilai: aspek luar (penampilan) dan aspek dalam (isi).
Aspek luar, misalnya: Perwajahan kulit muka. Apakah kulit mukanya enak dipandang dan menarik? Berat dan ketebalan. Apakah ukuran buku ini terlalu besar, atau justru terlalu kecil? Apakah terlalu berat, terlalu tebal, atau terlalu ringan dan tipis? Desain halaman dalam. Apakah desainnya menarik sehingga enak dipandang, atau malah membosankan? Jenis kertas yang digunakan. Apakah jenis kertasnya (kertas koran, HVS, art paper, kertas daur ulang, dan sebagainya) berwarna terang atau suram? Apakah terlalu berat atau ringan? Apakah kuat atau rapuh. Jenis huruf/tipografi yang digunakan. Apakah tipografi yang digunakan terlalu kecil, sehingga menyulitkan pembaca? Atau justru terlalu besar, sehingga boros halaman? Apakah tipografinya terkesan terlalu kaku? Foto, gambar, sketsa, grafik, tabel yang digunakan. Apakah foto dan gambar yang dipasang itu jelas dipandang? Apakah grafik dan tabel yang dipasang mudah dipahami dan efektif? Harga buku. Apakah terlalu mahal? Dan lain-lain.
Aspek isi, misalnya: Apa pokok pikiran yang diajukan penulis? Data dan argumen apa saja yang ia ajukan untuk mendukung pokok pikiran tersebut?
Apakah pokok pikiran, argumen, data dan ide-ide yang tertuang di dalam buku itu cukup orisinil? Pendekatan atau metodologi apa yang ia gunakan dalam membahas masalah dan pokok pikiran dalam buku itu? Adakah unsur, pendekatan, perspektif atau pengetahuan baru, yang bisa diperoleh dengan membaca buku ini? Ataukah isinya sama saja dengan buku-buku lain yang sudah lebih dulu beredar? Apakah isinya relevan dengan konteks situasi yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini? Apa kontribusi buku ini dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan tertentu, yang terkait dengan tema buku ini? Apakah buku ini disusun secara cermat, teliti, mendalam, atau terkesan ceroboh dan tergesa-gesa? Apakah sistematika pembahasan dalam buku ini bersifat logis, teratur dan memudahkan pembaca untuk memahami, atau justru sebaliknya rumit, berbelit-belit dan membingungkan?
Adakah kesalahan fakta, data, atau analisis, dalam buku ini? Apakah datanya valid? Adakah bias dari si penulis dalam melihat permasalahan?
Apa tujuan pengarang menulis buku ini? Apakah tujuan itu tercapai dengan terbitnya buku ini? Apakah si pengarang memiliki kompetensi yang cukup untuk menulis buku ini? Seorang sosiolog tentu akan dipertanyakan kredibilitasnya jika ia menulis buku tentang Ilmu Bedah Kedokteran.
Siapa khalayak pembaca buku ini? Apakah isi buku ini bersifat terlalu mendalam, sehingga lebih tepat untuk pembaca tertentu yang memang memiliki kualifikasi khusus (kalangan akademis atau profesional), atau buku ini cocok juga untuk kalangan pembaca yang lebih awam? Dan lain-lain.
Macam-macam Pola Penulisan Resensi: Tidak ada pedoman baku dalam penulisan resensi. Namun secara kasar, penulisan resensi untuk media massa mengikuti konvensi umum seperti dalam penulisan artikel lain. Unsur-unsurnya sebagai berikut:
Judul resensi yang menarik.
Di media massa, judul yang menarik (eye-cathing) ini perlu dan mutlak.
Deskripsi judul buku, nama pengarang (atau penyunting), nama penerbit, tahun terbit, kota tempat penerbitan, jumlah halaman, dan harga buku (boleh dicantumkan, boleh juga, tidak). Ini disebut Heading dan biasanya dicantumkan di awal resensi. Misalnya: Makna Cinta dan Perkawinan di Era Globalisasi, Dian Kencana Dewi, Bandung: Unpad Press, 2005, vii + 237 hlm.
Alinea pembuka (dalam teknik penulisan berita, disebut sebagai Lead).
Alinea pembuka atau Lead ini bersifat sebagai pemancing agar pembaca mau membaca resensi, maka Lead ini harus dibuat semenarik mungkin. Dalam membuat Lead, peresensi, misalnya, bisa mengaitkan isi buku ini dengan konteks situasi yang sedang hangat di masyarakat. Misalnya: buku bertema tentang korupsi diterbitkan ketika sedang ramai-ramainya pengadilan kasus korupsi terhadap seorang pejabat tinggi. Lead bersama judul berfungsi penting sebagai penarik minat pembaca.
Deskripsi atau rangkuman tentang isi buku. Di sini peresensi merangkum isi atau esensi buku secara ringkas. Tentu saja, pembaca tidak bisa menilai suatu buku jika bahkan gambaran ringkas isinya pun ia belum tahu. Dalam merangkum isi buku ini, peresensi boleh mengutip satu atau dua kalimat atau alinea yang menarik dari buku tersebut, yang bisa makin memperjelas gambaran isinya.
Komentar, evaluasi dan penilaian.
Inilah esensi dari suatu resensi, yakni si peresensi mengomentari dan menilai suatu buku dari berbagai aspek: aspek luar dan aspek isi. Karena keterbatasan ruang di media cetak, tentu tidak perlu seluruh aspek ini dibahas secara rinci. Peresensi boleh memilih aspek-aspek mana yang menurutnya paling penting untuk diulas dan disampaikan kepada pembaca.
Kalimat penutup dan rekomendasi. Dalam kalimat penutup ini, peresensi kadang-kadang secara tegas merekomendasikan bahwa buku bersangkutan memang layak atau tidak-layak dibaca. Kadang-kadang, rekomendasi tegas semacam itu tidak diungkapkan, karena pembaca dianggap sudah bisa menyimpulkan sendiri berdasarkan ulasan panjang sebelumnya.
Identitas si peresensi sering juga dicantumkan di bagian akhir resensi. Manfaatnya adalah untuk menunjukkan kredibilitas si peresensi dalam meresensi buku bertema tertentu. Misalnya, di akhir sebuah resensi tentang buku Kehumasan, identitas peresensi disebutkan: Dian Eka Puspitasari, staf Humas Trans TV. Artinya, si peresensi mau menunjukkan, ia adalah praktisi Humas dan karena itu memiliki cukup kompetensi untuk meresensi buku bertema Kehumasan.

One thought on “DASAR-DASAR JURNALISTIK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s