Etika Dakwah

OLEH Abbas M Basalamah
(Penulis adalah Dosen Pendidikan Agama Islam di Universitas Gunadarma dan Universitas Nasional)

Dakwah secara harfiyah berarti mengajak atau menyeru. Dakwah merupakan salah satu dari istilah keagamaan yang telah banyak disalahgunakan baik fungsi maupun hakikatnya. Terlebih ketika kata atau istilah tersebut telah menjadi bagian bahasa Indonesia yang dibakukan dan mempunyai makna beragam. Dalam kamus bahasa Indonesia misalnya, kata dakwah diartikan antara lain propaganda yang mempunyai konotasi positif dan dan negatif.

Sementara dakwah dalam istilah agama Islam konotasinya selalu tunggal dan positif. Yakni mengajak kepada peningkatan ibadah dan pengabdian pda sang khaliq (dalam arti luas).Bahkan dalam Alquran dan Sunnah merupakan bagian dari prinsip ajaran yang diwajibkan.

Dari realita dan fakta yang ada, ternyata pergeseran makna dakwah hingga mempunyai dua konotasi tidak sedikit disebabkan oleh etika para dainya. Antara lain banyaknya dai yang menempatkan dirinya pada bidang yang bertolakbelakang dengan inti maupun substansi amar makruf nahi munkar. Contohnya adalah seorang dai yang menjadi juru kampanye partai politik atau iklan komersil yang dengan kemahiran retorika mengolah ayat atau hadits untuk dijadikan bahan melegitimasi tindakan-tindakan tertentu yang tidak sejalan dengan etika Islam secara umum atau etika dakwah secara khusus.

Karakteristik zaman terus berubah. Zaman sekarang materialisme lebih mendominasi daripada spiritualisme. Individualisme lebih dominan ketimbang kebersamaan. Pragmatisme lebih dominan daripada akhlaq. Betapa banyak rauan dan promosi untuk berbuat kejahatan dan rintangan untuk berbuat kebaikan. Sehingga orang yang berpegang teguh kepada agamanya bagaikan memegang bara api.

Nabi menggambarkan dalam sabdanya, “akan datang suatu masa di mana nanti orang yang sabar dalam memegang ajaran agama bagaikan orang yang memegang bara api” HR Tirmidzi.

Pengertian dan Pembatasan Etika
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata “Etika” diartikan sebagai ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk atau ilmu tentang hak dan kewajiban moral. Dalam batasan pengertian itu maka etika bisa duniawi dan bisa ukhrawi. Sebab baik buruknya sesuatu masih perlu bahasan tertentu. Misalnya di mata Si A baik belum tentu di mata Si B.
Sementara pada makna yang kedua, yakni tentang hak dan kewajiban moral meski perlu diurai lebih luas. Namun konotasi umum lebih cenderung kepada “keagamaan”. Secara khusus bila dikaitkan dengan konteks dakwah.
Dari pengertian tadi semakin jelas bahwa kajian atau tinjauan kita berkenaan dengan etika dakwah adalah moral umum dalam batasan agama, apa dan bagaimana seharusnya suatu etika dakwah tersosialisasi dalam pribadi dainya secara khusus dan pada lembaganya secara umum.

Membahas masalah etika dakwah bukan masalah sepele atau singkat, sesingkat kita memahami suatu masalah atau membahasnya. Dalam soal dakwah semua acuan kembali kepada teladan tunggal yang ditetapkan Allah untuk dirujuki dalam menghadapi berbagai masalah hidup dan kehidupan, baik menyangkut duniawi maupun ukhrawi. Semua contoh yang terbaik itu ada pada diri Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman dalam Alquran surah Al Ahzab ayat 21; Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu tauladan yang baik bagi siapa saja yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah .

Ketika umat sepakat dalam bentuk keyakinan bahwa keteladanan dalam hidup dan kehidupan khususnya menyangkut soal keyakinan (agama), semestinya acuan dalam segala hal itu dikembalikan kepada kesepakatan tersebut. Realitas yang ada menunjukan bahwa permasalahannya bukan sekedar mau atau tidak mau mengikuti, tapi jauh lebih komprehensif.

Hemat saya, masalahnya justru terletak pada bagaimana memahami siapa contoh tunggal tersebut dan bagaimana menempatkannya pada tempat yang semestinya. Mengapa?karena ternyata contoh tunggal tersebut tunggal adanya dan ketunggalannya itu multi fungsi. Sebagai rasul, sebagai kepala negara, panglima perang, hakim yang memutuskan, dan mufti pemberi solusi berbagai permasalahan. Baik sebagai suami juga sebagai manusia biasa yang memiliki kelebihan. Lebih dari itu Allah menciptakan contoh itu hanya satu dan tak ada duanya. Logikanya, kalau di jamannya tidak ada manusia yang seratus persen sama seperti dia, maka sangat mustahil bila di jaman sesudahnya ada sosok manusia yang seratus persen seperti dia.

Kalau boleh digambarkan -untuk memudahkan pemahaman- contoh tersebut sosok manusia yang normal, lengkap dengan apa yang diciptakan Allah termasuk memiliki keinginan dan kecenderungan., maka boleh jadi ada manusia di jaman dahulu hingga sekarang yang banyak samanya seperti dia. Boleh jadi Si A mirip dengan teldan dalam berjalan, saat tersenyum, saat berjalan, sementara si B pada keteladanan yang lain, demikian seterusnya.

Dakwah Islam harus mengacu pada ketetapan Alquran secara mutlak. Sementara Alquran telah menetapkan keteladanan tunggalnya. Yakni mengikuti Rasulullah. Mengapa demikian? Karena ternyata akhlaq Rasulullah adalah Alquran seperti yang mashur diriwayatkan secara akurat dalam Alhadits. Pada waktu yang sama, Alquran telah menetapkan keberadaan umat Muhamad adalah umat yang tengah-tengah (moderat) karena seluruh ajarannya dari A hingga Z sesuai dengan fitrah yang telah ditetapkan Allah. Firmannya dalam Surah Albaqarah ayat 143, “dan demikian pula kami telah menjadikan kamu umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul menjadi sakasi atas perbuatan kamu”.

Beberapa Prinsip Etika Dakwah
Berdasarkan itulah, ada beberapa prinsip yang harus dijadikan acuan etika dalam berdakwah.
Pertama, memahami hakikat dakwah dan apa yang diajarkan dengan landasan ilmu yang benar. Hal ini sesuai petunjuk Alquran dalam surah Yunus ayat 108. Bahkan Ibnul Qayyim Aljauziyah ketika menjelaskan ayat 125 dari surat Annahl “serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik ..dst” dalam tafsirnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan hikmah dan mauizhatil hasanah adalah ilmu sebelum berdakwah, berbelas kasih saat berdakwah, dan bersikap arif setelah berdakwah.

Kedua, etika dakwah yang juga sebagai prinsipnya adalah tidak memaksakan kehendak. Hal ini mengingat ketetapan Allah dalam banyak ayat Alquran surat Yunus ayat 99, “ dan jikalau Tuhanmu menghendaki tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya.”
Ketiga, jangan mempersulit masalah dan mengedepankan kemudahan. Hal ini ditetapkan Allah dalam firmannya di surah Albaqarah ayat 185, “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (AB)

sumber

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s